Halo semuanya! Akhirnya aku kembali lagi. Mudah-mudahan setelah ini aku akan terus aktif posting. Kangen juga nih menulis. Masalahnya memang bulan-bulan ini aku lagi nggak tau mau nulis apa. Padahal banyak juga kejadian-kejadian seru yang terjadi. Ini aja, aku baru pulang dari bumi perkemahan di Sibolga. Jadi di sibolga ini, aku dan dua orang temanku mengikuti lomba pengetahuan lingkungan hidup tingkat Provinsi Sumatera Utara. Jadi kami sebagai wakil dari kabupaten Samosir, bertanding melawan wakil dari kabupaten-kabupaten yang lain.

Lomba pengetahuan lingkungan hidup ini terdiri dari tiga tahap. Yang pertama, kita akan diberi pengarahan mengenai suatu permasalahan lingkungan hidup, yang kali ini adalah mengenai global warming. Yang kedua, kita disuruh menggambar diagram alir yang akhirnya pada tahap ketiga, akan kita presentasikan didepan juri. Wah, perlombaannya seru, tapi sangat melelahkan. Aku bahkan sempat sakit pada saat membuat diagram alir tersebut, terus sakit juga sebelum acara presentasi. Tapi untungnya semua itu dapat terlewati dengan bantuan doa. Pada akhirnya kami memenangkan lomba ini. Kami juara satu tingkat provinsi! Sungguh aku tidak menyangka, apalagi sebelumnya, kata guru pendampingku belum ada wakil dari kabupaten Samosir yang dapat memenangkan lomba tingkat provinsi. Aku sangat bersyukur.

Mungkin segini dulu postinganku kali ini. Aku cuma ingin bilang pada semua pembaca, kalau aku akan mulai aktif lagi menulis. Mudah-mudahan.

Sudah sangat lama sejak aku nggak nge-post ya. Bukannya males atau apa, tapi memang otakku sedang capek-capeknya dipake untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Akhirnya aku cuma bisa update facebook aja. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama sebulan ini. Yah, kan semester ini aku sudah pindah kelas, dari kelas f ke kelas a. Makanya, tugas-tugasku semakin banyak dibanding semester lalu. Kelas a ini memang kelas unggulan, jadi isinya orang orang pintar semua. Otomatis tugasnya lebih banyak dan susah. Aku sendiri awalnya agak kewalahan, tapi lama kelamaan biasa sih.

Harus aku akui memang teman-teman sekelasku di a pintar-pintar dan rajin-rajin. Yang paling mereka kuasai adalah pelajaran matematika. Sungguh, mereka cepat sekali kalau belajar matematika. Aku ingat ada seorang pembaca yang bilang bahwa orang Samosir memang pintar dalam pelajaran ilmu pasti. Dan ternyata memang benar. Tapi kebalikannya, pelajaran bahasa mereka kurang bisa. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, aku perhatikan mereka masih susah merangkai kata-kata. Mungkin karena mereka biasa berbicara bahasa batak ya? Kalau soal bahasa inggris, mereka jauh lebih pandai dari kelas f. Baguslah.

Bagaimana kalau aku ceritakan tentang kelas ku? Seperti yang sudah aku bilang di awal, aku sekarang masuk di kelas a. Di kelas ini aku duduk dengan seorang cewek bernama Lenni Simbolon. Lenni adalah juara umum untuk kelas dua di sekolah kami. Memang dia sangat pintar. Pelajaran apapun dia bisa kuasai. Orangnya juga baik dan mau ngajarin teman kalau ada pelajaran yang tidak dimengerti. Aku dan Lenni lumayan dekat. Tapi sebelnya, kadang-kadang si Lenni ini bisa usil juga. Kayak waktu itu, tinta spidol si Lenni kan bocor, eh..tintanya malah dilap ke pipiku. Akhirnya kami malah saling coret coret pipi. Untung bisa dibersihin. Yah, keusilan seperti itu sudah sering aku terima dari Murni sih, jadi menurut aku nggak masalah.

Selain Lenni, aku mendapat teman dekat yang lain. Ada temanku namanya Rosalina Sitanggang. Orangnya cantik, dan luar biasa baik. Aku nggak tau deh gimana bisa ada orang sebaik dia. Kayak waktu itu, aku kan nggak menulis soal bahasa Indonesia, padahal soalnya banyak dan harus dikumpul besok. Eh, si Rosa akhirnya meng-sms soalnya satu per satu ke aku. Duh, apa tangannya nggak capek ya? Aku cuma bisa bilang terima kasih sama dia. Ada lagi teman-temanku yang bisa dibilang “gila”. Bukan gila secara harafiah, tapi aku bilang gila karena mereka kocak-kocak banget. Hehehe. Nama mereka, Pese Sitanggang dan Julyetrie Lumbangaol. Pese itu cewek yang aneh banget. Mukanya mirip sama Tina Toon. Ide itu aku yang bilang sama teman-teman. Eh, akhirnya Pese jadi punya nama panggilan baru, Pese Toon. Orangnya suka nyeletuk dan suka ngeles juga. Yang kedua, si Julyetrie alias Jupe. Jupe bukan Julia Perez. Jupe itu singkatan dari Julyetrie Guadalupe. Si Jupe ini bener-bener soulmatenya Pese di kelas. Kerjanya ketawa bareng sama bercanda bareng. Tapi Jupe lebih gila, soalnya sekali dia ketawa, dia nggak akan bisa berhenti.

Masih banyak temen-temenku yang lain. Intinya mereka semua beda dari temen-temenku di kelas f. Mereka semua pintar-pintar, dan aku jadi ngerasa lebih nyambung berteman sama mereka. Eh, aku masih dekat loh sama Murni. Kami masih sering jajan bareng ke kantin. Atau saling pinjam buku. Kangen juga sebangku sama dia.

Oh ya, kelas a ini dominan anak ceweknya dari anak cowok. Anak cowoknya cuma ada enam orang dari 40 siswa. Bayangin! Sejauh mata memandang isinya anak cewek semua di kelas. Tapi kursiku memang dekat dengan kursi dua anak cowok. Nama mereka Iantito Simanjuntak dan Anton Ruchiat. Si Tito ini anak guru matematika di sekolahku, kebetulan guru yang mengajar matematika di kelas f. Jadi aku kenal. Nah kalo si Anton, sebenarnya dia bukan orang batak melainkan orang Sunda. Makanya dia nggak punya marga. Dua duanya baik, tapi seperti anak-anak cowok kebanyakan, usil. Eh, si Tito ini dipanggil “Obama” oleh teman-teman loh! Kenapa, aku juga kurang tau. Tapi mungkin karena sikap nge-boss yang kadang-kadang agak nyebelin.

* * *

Bulan Mei tanggal 5-9 akan diadakan Kompetisi Olahraga Paragliding
(Paralayang) di Bukit Siulakhosa dan Beta, Simanindo, Samosir. Paragliding itu semacam olahraga udara menggunakan parasut. Aku juga kurang mengerti sih, tapi kelihatannya akan asyik. Yang ikut kompetisi ini nggak cuma dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri seperti Malaysia, Serbia, Inggris, dll. Dari Indonesia yang ikut kira-kira 100 orang sedangkan dari luar negeri kira-kira 40. Nah, sebelum kompetisinya dimulai, akan ada semacam pelatihan untuk pesertanya tanggal 16 Maret nanti. Kakakku, Kak Irene, ingin sekali ikut ber-Paralayang. Katanya dia pengin coba olahraga udara karena dia ingin tau rasanya terbang. Tapi sayang nggak bisa, karena waktunya tabrakan dengan sekolah. Nggak mungkin kan bolos dengan alasan Paralayang?

Kemarin Mama mengajak aku dan kakakku pergi berlayar naik kapal mengelilingi danau Toba. Mama diajak oleh temannya. Rencana ini memang sudah Mama beritahu seminggu yang lalu. Namun, karena acara ini diadakan hari Sabtu, kami agak bimbang mau ikut. Hari Sabtu kan masih masuk sekolah. Tapi karena kesempatan seperti ini nggak datang sering-sering, jadi aku dan kakakku ijin tidak masuk sekolah. Bapak tidak ikut karena dia sedang di Siantar.

Kami pun sudah bangun pagi-pagi sekitar jam lima. Kami benar-benar diburu waktu, karena kata Mama kami akan dijemput jam tujuh. Eh, nggaktaunya, kami dijemput jam setengah sepuluh. Sayang juga, soalnya melihat-lihat Danau kan lebih enak pagi-pagi. Nah, akhirnya kami sampai di hotel Carolina di tuk-tuk. Hotel Carolina ini memang salah satu hotel terbaik di tuk-tuk. Aku melihat banyak turis asing di restoran Carolina. Sambil menunggu kapalnya siap berangkat, kami memesan pancake. Aku memang sudah lapar.

restoran carolina

restoran carolina

Kapal pun siap berangkat. Aku, Mama, dan kakakku naik ke kapal yang tidak terlalu besar itu. Kapal itu penuh dengan staf-staf dari kantor teman Mama. Akupun langsung siaga menggenggam kamera, pasti akan ada banyak pemandangan bagus. Mama sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Lalu aku baru sadar akan sesuatu, ternyata ada pemain musik batak (Apa ya istilahnya? Ada yang tau?) yang bermain di bagian atas kapal. Aku dan kakakku diajak oleh salah satu teman Mama itu untuk duduk di atas sambil mendengarkan musik Batak itu. Kamipun duduk di atas. Wah memang musik Batak ini, indah sekali. Kalau mendengarnya memang aku nggak bisa menahan diri untuk menggerakan badan sesuai irama. Lalu aku memperhatikan sesuatu. Pemain gondangnya (gendang dalam bahasa batak) adalah seorang anak laki-laki yang masih duduk di sekolah dasar. Dia mengenakan pakaian pramuka. Wah, hebat juga dia, begitu pikirku.

picture-028

pemain musik batak di kapal

Tanpa kami sadari, kami sudah lumayan jauh dari tuk-tuk. Danau Toba benar-benar terlihat seperti laut yang tak berujung, luas sekali. Aku benar-benar kagum. Di kapal, kami semua bernyanyi alias marende bersama-sama. Lagu-lagu batak itu masih asing ditelingaku, tapi aku benar-benar menikmatinya. Memang orang batak kalau sudah menyangkut musik dan nyanyi, hebat sekali.

Setelah beberap jam kamipun mulai makan siang. Lauknya adalah masakan-masakan khas batak. Ada saksang, arsik, dan sup. Saksangnya pedas sekali. Perutku jadi agak nggak enak sehabis makan. Tapi untungnya setelah itu perutku membaik.

Karena perjalanan sudah agak lama, kapalnya butuh istirahat supaya tidak terlalu panas. Kamipun transit di Kecamatan Sitio-tio. Kata Mama di Sitio-tio ini terkenal dengan banyaknya orang yang kurang waras alias gila. Benar saja, baru saja aku berjalan beberapa langkah, aku langsung melihat orang yang gelagatnya tidak waras. Waah, jadi nggak enak juga aku. Tapi salah seorang teman Mama mengajak kami untuk melihat-lihat. Sitio-tio ini memang terlihat masih seperti desa sekali. Jalannya menanjak ke atas, dan benar-benar sepi. Lalu tiba-tiba seorang opung boru mendatangi kami. Mulutnya merah-merah karena dia sedang memakan sirih. Dia menyapa kami. “Boru aha do ho?” (“Kamu boru apa?” boru artinya nama keluarga) sambil menyalami kami. “Pakpahan” kata Kakakku pendek, karena memang dia nggak bisa ngomong lagi. “Ho? Sarupa do?” (Kau? Apa sama dengan dia?”) kata si Opung. “Ido Opung.” Kataku sambil tersenyum. Dari jauh, teman mama memberitau si Opung bahwa kami nggak bisa bahasa Batak. Lalu si opung menjawab, bahwa kami tadi menjawab pertanyaan dia yang dalam bahasa batak. Kamipun mengobrol. Opung dan teman mama itu mengobrol dalam bahasa batak yang sedikit-sedikit aku tau. Lalu ada teman si opung ikut mendatangi kami. Dia menyalami kami. Percakapan pun berlanjut sampai teman si Opung itu berkata bahwa anak laki-lakinya tampan. Ternyata kami mau dikenalkan! Ya ampun….Kamipun tertawa bersama-sama. Untunglah cuma basa-basi.

sitio-tio

sitio-tio

Setelah kapal siap berangkat kembali, kami pun pulang. Dalam perjalanan pulang, semua penumpang manortor (istilah untuk “menari” dalam bahasa batak) di bagian atas kapal diiring oleh musik batak. Setelah sudah mendekati pangururan, akupun melihat SMP-ku dari jauh. Wah, bagus juga sekolahku dilihat dari danau. Nah, ada kendala yang lumayan membuat cemas waktu kami sudah melewati Pangururan.. Waktu kapal mau melewati bagian bawah jembatan Tano Ponggol (Tano Ponggol itu jembatan yang menyambung pulau Samosir dengan Pulau Sumatera), kapalnya nggak bisa jalan lurus ke tengah dan hampir menabrak jembatan, tapi langusng ditahan dengan kaki oleh penumpang laki-laki. Lalu sebagian penumpan laki-laki pun terjun ke air dan membantu kapal agar ke tengah. Aku nggak tau bagaimana, yang jelas prosesnya lama sekali. Banyak orang yang menonton dari atas jembatan. Akhirnya kapal pun bisa lewat dan kami kembali duduk di tempat masing-masing.

kapal kami terjebak di tano ponggol

kapal kami terjebak di tano ponggol

Kami akhirnya sampai kembali ke Carolina. Waktu itu pukul sembilan malam, dan aku lapar lagi. Kamipun memesan makanan. Dan setelah selesai makan, kami pulang diantar oleh teman mama itu. Setelah itu kami mengucapkan terimakasih. Aku langsung tertidur setelah berganti pakaian. Akhirnya, mengelilingi Danau Toba juga, begitu pikirku sebelum tidur.

Ada PR dari tulang Bonar nih. Hehehe, aku kerjain ya tulang…

Dari mana blog kalian berasal? Dari WordPress!
Kapan dilahirkan blog kalian? Oktober 2008
Kesulitan apa saja yang ada saat membuat blog kalian? Kesulitannya lebih kepada internetnya yg kadang-kadang agak nggak lancar, jadi mau mem-posting saja jadi perjuangan. ^ ^
Mengapa membahas topik yang kalian bahas sekarang? Emm, karena memang itu yang mau ditulis kan?
Kenapa tampilan blog kalian menggunakan template itu? Soalnya bagus. (Apa sih..)
Apa yang pertama kalian lakukan saat blog kalian baru jadi? Membuat postingan baru.

Ada lagi PR yang aku temukan di blognya tulang Bonar, tapi sebenarnya nggak di kasih ke aku. Aku boleh kerjain juga ya tulang? Hehehe, aku memang kerajinan nih..

How old is your mother? 49 tahun
What do you call your mother? Mama
How is your relationship with your mother? Baik sekali!
Does she have another other children other than you? Yes she does! Kami tiga bersaudara.
Is she a good cooker? Mama jarang masak. Tapi Mama jago bikin kue.
Where was she raised? Jakarta
Do you love your mother? Tentu saja..!
When was the last time you saw your mother? Detik ini aku sedang melihat Mama, hehehe.
What is her favorite TV show? Mario Teguh Golden Ways dan Oprah Winfrey Show
What is your mother favorite restaurant? Emm, mungkin restoran mie pangsit “Awai” di Siantar.
Does your mother work? Ya! Mama pulang malam terus saking sibuknya.
What kind of music does she like? Lagu-lagu tahun 80an.
What is your mother’s favorite store?
Matahari
Does she know who britney spears is? Tau dong..! ^ ^
What is her favorite color? Kayaknya warna apa saja Mama suka deh..
Where is your mother right now? Pangururan, Samosir
What did you give your mother for mother’s day? Hanya ucapan selamat saja. Soalnya bingung mau kasih apa…
Your mother is.. amazing..!

That’s it! Wah, enak juga ngerjain pr. Aku bingung mau nerusin ke siapa. Jadi kalau ada yang mau mengerjakan, silahkan..!

Semester baru udah dimulai! Mungkin yang di sana sudah memulai semester baru sejak tanggal 5 Januari ya? Tapi kalau di sini, semester baru mulainya tanggal 19 Januari. Wah, sudah lama juga nggak ke sekolah, tadi jadi agak terlambat bangun. Udah kebiasaan bangun siang sih selama liburan ini. Hehehe.

Di sekolah sebenernya belum mulai belajar. Tadi di kelas kami cuma main-main dan melepas rindu aja. Aku, Murni, Kris, dan Wandi nggak berhenti-berhentinya mengobrol. Kami membicarakan segala hal. Yah, mungkin hari ini adalah hari terakhir kami untuk bersua seperti ini, karena kemungkinan besar aku akan pindah kelas ke kelas a. Walaupun itu juga belum pasti. Kami asyik sekali mengobrol. Boleh aku certain ya..?

Kami bercerita tentang bertani. Wandi dan Kris bertanya begini sama aku, “Hanna, kesawah nya kau habis pulang sekolah?”. Aku menggelengkan kepalaku seraya berkata “Nggak..”. Mereka kelihatan kaget sekali. “Nggak ada sawahmu?” tanya Wandi. “Nggak..” jawab-ku. Lalu aku tanya sama Murni, “Murni, emang kamu pernah ke sawah?”. “Bukan pernah lagi! Dulu aku waktu di dolok sanggul selalu ke sawah setiap pulang sekolah!” Begitu jawabnya. Akhirnya kami berbicara tentang bertani dan panen. Pembicaraan tentang panen inilah yang paling asyik, soalnya mereka bertiga (Wandi, Kris dan Murni) sangat bersemangat menceritakannya padaku. Dari mereka aku jadi tau tentang bertani dan panen yang belum aku tau sebelumnya. “Gimana sih ciri-ciri padi yang sudah bisa dipanen?” tanyaku. “Ya, warnanya kuning..” kata Wandi. “Terus merunduk!” Sambung Murni. “Kalau sudah panen, rumah kami penuh dengan beras!” seru Wandi. Kelihatannya waktu panen itu waktu yang sangat membahagiakan buat mereka. Mereka memberitahu aku, bagaimana mereka bisa mendapat panen berkarung-karung, sampai bagaimana mereka bisa makan nasi dari beras hasil keringat mereka sendiri. “Senang kali kami kalau makan nasi yang berasnya hasil sawah kami sendiri!” kata Kris. “Merasa bangga gitu ya?” tanyaku tersenyum. “Iya, puas gitu lah. Enak.” Jawab Kris. Aku mangangguk-angguk ikut senang. “Pernah kalian gagal panen?” tanyaku penasaran. “Nggak, aku nggak pernah.” Jawab Kris. “Aku pernah.” Kata Wandi. “Oh, terus gimana dong?” tanyaku lagi. “Ya, kami jadi beli beras.” Jawab Wandi.

Lalu kami berbicara tentang nggak enaknya bertani. “Banyak pacet dan lintah!” keluh Wandi diiringi anggukkan dari Kris dan Murni. “Pernah aku digigit lintah sebesar ini!” lanjut Wandi sambil membentuk jarinya seukuran lintah besar. “Kalau bapakku membunuh pacet dengan didekatkan ke api.” Ujar ku kepada mereka. “Bisa pakai api dari rokok!” kata Kris. “Kalau aku, kucabut dari kakiku pacet itu, lalu kubuang saja bah!” seru Wandi. Kamipun tertawa. Setelah itu kami membicarakan tentang saat-saat membajak sawah. “Kalian membajaknya pakai traktor atau kerbau?” tanyaku pada mereka. “Kerbau.” Jawab Murni. “Iya, kerbau.” Jawab Kris dan Wandi juga. “Memang mana yang lebih enak?” tanyaku lagi. “Yah, lebih enak pakai kerbau, soalnya lebih dalam.” Jawab Wandi. “Kalau pakai kerbau enak, kita bisa naik ke atas pundaknya!” seru Murni. “Kalau pakai traktor nggak bersih.” Kata Kris, walaupun aku nggak terlalu mengerti apa yang dimaksud “bersih” oleh Kris. “Jadi Kerbau-nya kalian kasih nama nggak?” tanyaku. “Iya, nama kerbauku yang betina Tonton.” Kata Kris. “Nama kerbauku Bleki!” seru Murni. “Murni, itukan nama untuk anjing.” Ujarku sambil tertawa. “Yah, memang itu namanya.” Kata Murni memprotes.

“Kalian suatu saat nanti mau masuk perguruan tinggi nggak?” tanyaku tiba-tiba disela-sela pembicaraan kami tentang bertani. “Mau!” seru mereka bertiga, lagi-lagi dengan bersemangat. Aku tersenyum mendengarnya. “Yah kalau ada uangnya lah kami mau.” Lanjut Wandi. “Ya, berarti cari uang dulu lah kalian.” Begitu ujarku. “Iya, pokoknya aku mau kuliah lah!” kata Wandi. “Memang orangtua kalian mendukung nggak sih, kalau kalian mau sekolah tinggi-tinggi?” tanyaku dengan nada rendah, aku agak takut kalau pertanyaanku agak menyinggung. “Mendukung banget!” ujar mereka bertiga. “Kalau malam sebelum tidur kan, orangtuaku selalu bilang, ‘baik-baiklah kalian belajar ya’, begitu” kata Wandi. “Kalau mama-ku kan selalu bilang bahwa dia mau aku untuk belajar supaya bisa berhasil dan tidak hanya jadi petani seperti dia.” Kata Kris. Aku pun lagi-lagi tidak bisa menahan senyum. Mudah-mudahan saja cita-cita mereka untuk bisa masuk perguruan tinggi itu bisa tercapai.
Menyenangkan sekali bisa mengobrol dengan mereka. Mereka begitu jujur dan menerima semua pertanyaan dariku. Aku jadi tidak segan untuk bertanya. Kalau aku lihat, mereka malah senang aku beri banyak pertanyaan. Mungkin itu menimbulkan perasaan bangga pada mereka karena bisa membeberkan hal-hal yang mereka tau kepadaku. Pembicaraan kami tidak berhenti sampai bel pulang berdering. Kapan ya bisa mengobrol panjang seperti ini lagi?

Hello again, all! Kemarin adalah hari ulang tahun Kabupaten Samosir yang ke-5. Dari tanggal 6 Januari, sudah banyak acara terselenggara. Mulai dari lomba manortor (tarian batak) sampai pawai. Sayang aku tidak mengikuti acara-acara tersebut. Aku hanya mendengarkan cerita dari mamaku saja.

Katanya Judika Sihotang juga mengisi acara di sana? Aku juga tidak tau. Kalau benar dia mengisi acara, sayang sekali aku nggak nonton. Heem…

Waktu mama kemarin pulang dari perayaan hut Kabupaten Samosir, mama membawa teks lagu “Mars Samosir” dan “O Tano Batak”. Hampir semua sudah tau lagu “O Tano Batak” (khususnya orang batak), namun “Mars Samosir” mungkin belum terlalu dikenal. Memang kata mama lagu ini baru diciptakan kira-kira setahun yang lalu oleh Drs. Bonar Gultom. Aku sendiri belum tau nadanya seperti apa. Nih, liriknya kutampilkan di bawah sini.

Mars Samosir (Drs.Bonar Gultom/Gorga)

Samosir kabupaten idolaku yang kucinta tempat aku dilahirkan bunda,
Tempatku berkenalan dengan hidup, dengan dunia dan tempatku k’lak menutup mata
Tlah tiba kini saat yang tepat dan yang sempurna aku harus turut membangunnya
Kerahkan s’gala daya dan upaya agar maju, makin makmur dan makin sejahtera

Ya aku sangat cinta kau pulau Samosir, dan aku sangat sayang kau o Danau Toba
Kuucap syukur pada Tuhan Maha Kuasa
Tiada tempat dimanapn seindah kau (seindah kau)
Samosir tempat asalku yang indah, serta kuat dan termashyur di seluruh dunia
Kan kubangun engkau makmur, serta aman dan sejahtera
Samosirku ku cinta kau

Ya aku sangat cinta kau pulau Samosir, dan aku sangat sayang kau o Danau Toba
Kuucap syukur pada Tuhan Maha Kuasa
Tiada tempat dimanapn seindah kau (seindah kau)
Samosir tempat asalku yang indah, serta kuat dan termashyur di seluruh dunia
Kan kubangun engkau makmur, serta aman dan sejahtera
Samosirku ku cinta kau, kucinta kau benar, kusayang kau benar
Akan kubangun kau, Samosirku kucinta kau

Ya, aku sangat mencintai Pulau Samosir dan Danau Toba. Liriknya indah ya? Nah, yang satu lagi lirik lagu “O Tano Batak”.

O Tano Batak

O Tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho
Ndang olo modom, ndang nok matangku
Sai na malungun do au sai naeng tu ho.

O Tano Batak andigan sahat
Haholonganku tano hagondanganki
O Tano Batak sai tong hutatap au on naeng mian di ho sambulongki

Molo dung binsar mata ni ari, lao panapuhon hauma i
Godang do ngolu siganup ari, di namaringan di ho sambulongki

Sebenarnya aku mau mengartikannya, tapi aku cuma bisa mengartikan satu kalimat awal. “O Tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho”. Kira-kira artinya, “Tanah Batak kesayanganku, aku selalu rindu padamu”. Bener nggak tuh? Setelah itu aku udah nggak ngerti lagi..-__-…Ada yang bisa bantu aku mengartikannya?

* * *
Wah, lagi banyak berita beredar tentang anak-anak sekolah yang terlambat ya? Memang mulai dari bulan Januari anak-anak sekolah di Jakarta masuk sekolah dari jam setengah tujuh. Susah juga ya buat anak-anak yang bersekolah di Jakarta. Memang yang bersekolah di Jakarta bukan hanya anak-anak yang tinggal di Jakarta, yang dari Bekasi juga. Aku juga dulu sekolah di Jakarta, walaupun rumah di Bekasi. Aku nggak bisa bayangin kalau aku masih sekolah di Jakarta, aku harus bangun jam berapa?

Hello all! Akhirnya liburanku di Siantar berakhir. Dan sesuai janjiku, aku akan menceritakan pengalaman liburanku ini.Tapi bingung juga harus mulai dari mana. Oke, kita bikin berurutan ya, mulai dari liburan di Pasir Putih.

Sebenarnya kunjungan ke pasir putih di parbaba hanya sebentar. Tujuan utama kan ingin pergi ke Tuk-tuk. Tapi karena aku penasaran sama Pasir Putih, kamipun menyempatkan untuk berhenti sebentar di sana. Wow, nggak rugi deh! Lumayan cantik juga pantainya. Kamipun sempat berfoto di sana.

picture-015

aku dan kakak2ku

Hari semakin siang, kami cepat-cepat masuk mobil dan menuju ke Tuk-tuk. Perjalanan dari Parbaba ke Tuk-tuk lumayan jauh. Banyak tikungan-tikungan, sehingga tidak boleh ngebut di sana. Di sepanjang perjalanan, kami tidak puas-puasnya melihat pemandangan Danau Toba yang tidak pernah berhenti terlihat. Kami juga melihat sesuatu hal yang tidak biasa, ternyata ada pulau lagi di dalam Danau Toba. Pulau-pulau itu kecil, dan terlihat banyak rumah-rumah dipinggir-pinggirnya. Sungguh luar biasa danau toba ini. Ternyata tidak hanya Pulau Samosir yang ada di tengah-tengahnya.

Kira-kira satu setengah jam kemudian kami sampai di Tuk-tuk. Di pinggir-pinggir jalan di Tuk-tuk, banyak terdapat penginapan dan restoran. Yang tidak kalah banyak adalah toko souvenir yang kebanyakan menjual pahat-pahatan dan patung. Yang langsung terlintas di benakku saat melihat semua itu adalah, Bali. Ya, Tuk-tuk hampir persis seperti jalan-jalan di Bali, banyak penginapan, banyak toko souvenir. Walaupun aku belum pernah melihat Bali secara langsung, tetapi aku sering melihat di acara-acara wisata di televisi. Tetapi, ada satu perbedaan mencolok antara Tuk-tuk dan Bali. Tuk-tuk tidak seramai Bali. Bisa di bilang Tuk-tuk sepi sekali. Walaupun di sepanjang jalan aku dapat melihat turis-turis asing. Istilahnya kalau nggak salah, backpacker ya?

Mama mengajak kami duduk-duduk di sebuah penginapan. Namanya, Penginapan Dumasari. Tempatnya bagus, sudah layaklah untuk turis-turis asing. Waktu kami memasuki penginapan itu, kami langsung disambut hangat oleh si petugas penginapan. Wah, aku tercengang juga melihatnya. Ternyata benar kata bapak-ku, orang-orang di Tuk-tuk ini sudah tau bagaimana beramah-tamah kepada wisatawan. Memang Tuk-tuk sudah layak untuk jadi tempat tujuan wisata seperti Bali. Aku pun sempat mengambil gambar di sekitar penginapan itu.

danau toba di depan penginapan dumasari

danau toba di depan penginapan dumasari

bule lagi mandi di danau toba

bule lagi mandi di danau toba

picture-036

anak-anak berenang di dekat kapal

penginapan dumasari

penginapan dumasari

Setelah puas mengobrol, minum teh, dan berfoto di sana, kamipun bersiap untuk pulang. Tak lupa si petugas penginapan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum lebar.

Oke, sekarang aku ceritakan perjalanan ku di Siantar ya..!

Dari rumah, kami berangkat sekitar jam lima pagi. Kami berangkat sepagi itu supaya kami bisa langsung menyebrang naik kapal jam tujuh. Sesampainya kami di Tomok, kami terlambat. Kapalnya sudah penuh dan kami harus mengantri untuk menaiki kapal selanjutnya. Kenapa pelabuhan tiba-tiba bisa sepenuh ini? Ternyata banyak juga wisatawan2 lokal dari luar kota yang datang ke Samosir untuk berlibur.

Akhirnya, setelah menunggu dengan jenuhnya, kami masuk juga ke kapal feri itu. Di kapal, aku tidak keluar dari mobil. Rasanya aku masih mengantuk dan masih ingin tidur. Akupun berbaring, tidur. Tidak terasa kami sudah sampai di Ajibata. Walaupun sudah bukan di Pulau Samosir lagi, tetapi Ajibata masih termasuk bagian dari kebupaten Samosir. Ternyata di Ajibata sudah terlihat antrian panjang mobil yang ingin menyebrang ke Tomok. Ternyata yang ingin ke Samosir tidak kalah banyaknya. Wah, pusing lah melihat kumpulan mobil-mobil itu. Soalnya sudah lama aku tidak merasakan kemacetan. Hehehe.

Dari Ajibata, kami menuju ke Siantar. Our first destination, yaitu sebuah restoran mie pangsit. Nama restorannya “Awai”. Pemiliknya orang Cina. Memang di Siantar ini banyak sekali restoran Cina-nya, dan masakannya enak-enak. Hemm, aku sudah tidak sabar ingin makan mie pangsit, apalagi aku sudah lapar. Ternyata mie pangsitnya memang enak. Aku nambah loh!🙂

Setelah itu kami pergi ke toko roti Ganda. Memang toko roti yang sangat terkenal ini selalu menjadi tujuan kami setiap pergi ke Siantar. Tetapi sayang, saat kami datang, makanan-makanannya sudah habis semua. Yang tersisa hanyalah popcorn manis. Mama akhirnya hanya membeli popcorn itu. Dan rasanya ternyata enak sekali. Aku ketagihan deh.

toko roti ganda

toko roti ganda

Habis itu kami pergi ke Supermarket “Suzuya”. Mama dan kakak-ku turun dari mobil dan masuk ke supermarket itu, tetapi aku, bapak, dan kak Irene menunggu di mobil. Di mobil, kami mendengarkan radio. Aku pun iseng-iseng mengambil gambar jalan raya di depan Supermarket Suzuya.

jalan raya didepan suzuya

jalan raya didepan suzuya

Karena sudah capek, kami langsung pulang ke rumah ompung. Kami beristirahat sebentar. Lalu malam harinya, Mama mengajak kami keluar lagi. Ternyata mama ingin bertemu dengan temannya di sebuah restoran. Namanya “Pizza House”. Sudah bisa ditebak, itu adalah restoran pizza. Sudah lama nggak makan Pizza. Hahaha.

Di restoran pizza itu, mama dan bapak mengobrol asyik dengan teman mereka. Setelah puas makan dan mengobrol, kami pun pulang. Sungguh aku lelah sekali. Akupun langsung tidur.

Nah, hari ini, kakakku pulang ke Jakarta. Setelah bapak dan mama mengantarkan dia ke tempat taksi, kamipun langsung bersiap untuk pulang ke Pangururan. Sebelum kami pulang, kami menyempatkan untuk makan siang di “Awai” lagi. Memang kami ketagihan, saking enaknya. Lalu kami jajan ke Toko Roti Ganda lagi, karena kemarin tidak ada yang bisa kami beli. Mama membeli banyak sekali makanan. Yang paling kami gemari, popcorn. Mama membeli tujuh bungkus. Haah, puaslah kami makan popcorn, tinggal kurang layar tancepnya aja. Hahaha, jayus ah. Ada lagi yang mama beli, opak. Mama beli opak sampai dua bungkus besar. Duh, siapa yang mau menghabiskan semua makanan ini. Heem… Akhirnya kamipun menuju ke Ajibata. Setelah menyebrang, akhirnya kamipun sampai di rumah dengan keadaan lelah namun senang.

Aku sendiri merasa senang banget sama liburan kali ini, apalagi di Siantar. Maaf ya kalau aku menceritakannya kurang detail. Maklumlah, aku ngetiknya sambil lemes-lemes. Tapi tidak lupa,  sambil ngemil popcorn. Popcornnya masih ada sisa dua bungkus soalnya.🙂 Yah, kalau ada yang mau ditanya,  silahkan tanyakan.