Tinggal beberapa jam lagi, tahun akan berganti. Dari 2008 menjadi 2009. Yah, aku sekali lagi ingin mengucapkan Happy New Year! Mudah-mudahan di tahun baru nanti semua yang kita inginkan akan tercapai! Amiiin..

Wah, udah lama nggak nge-post ya. Akhir-akhir ini memang lagi banyak yang dikerjakan, walaupun lagi liburan. Mulai dari acara natal di gereja yang ga abis-abis, terus juga kedatangan kakakku dari Jakarta, terus mempersiapkan liburan. Kemarin selasa kami sekeluarga sudah jalan-jalan loh. Kan waktu itu, aku pernah nulis tentang kebingungan kami mau menghabiskan liburan kemana. Antara tuk-tuk, pasir putih, dan siantar. Ternyata ketiga-tiganya kami “borong”, kami pergi ke tiga tempat itu masing-masing. Walaupun ke Siantar-nya belum, nanti tanggal 2 Januari.

Sebenernya aku sudah mau menceritakan liburanku kemarin. Tapi kalo dipikir-pikir sekalian aja sama liburanku di Siantar. Jadi kira-kira tanggal 3 Januari aku post cerita tentang liburanku. Lumayan seru juga, pemandangan di masing-masing tempat yang kami datangi indah sekali. Yang paling memberi kesan adalah Tuk-tuk. Benar-benar mirip sama Bali, tetapi Tuk-tuk tidak terlalu ramai. Oke, aku nggak mau cerita lebih banyak lagi, ditunggu ya ceritanya!

Nah, sebagai pengganti postingan tentang liburan, aku mau ngerjain pr aja nih. Aku dikasih pr sama Disa. Nih Dis, aku kerjain ya…

1. Nama sekolah kamu?
SMP Negeri 1 Pangururan

2. Nama ketua kelas kamu?
Hotman Wandi Sigiro. Panggilannya Wandi.

3. Jabatan kamu di kelas?
Anggota aja deh.

4. Guru yang paling killer?
Semuanya killer. Serius.

5. Nama kepsek kamu?
Waduh lupa! Pokoknya marga Simbolon deh. Hehehe

6. Nama wakepsek kamu?
Nggak tau..

7. Pernah jadi ketua kelas?
Pernah waktu kelas 7 sama waktu SD.

8. Pelajaran paling nggak suka?
Matematika kayaknya.

9. Kegiatan rutin di kelas?
Berantem sama Murni. Nyanyi2 bareng Kris dan Wandi. Gambar-gambar nggak jelas. Ketawa-ketawa bareng Dinda cs. Dan yah, belajar.

10. Pernah di skors?
Nggak lah.

11. Sering di hukum?
Nggak sering tapi pernah. Hehehe

12. Sering buat pr di sekolah?
Jarang, berarti pernah.

13. Tempat duduk diatur nggak?
Diatur sih. Tapi nggak ada masalah.

14. No absent kamu?
Kalo nggak salah 19.

15. Kamu jurusan IPA/IPS/BHS?
Belum pake jurusan sih. Tapi maunya IPS aja.

16. Suka bolos nggak?
Nggak lah. Kalo bolos, berat konsekuensinya. Bisa-bisa panggil orangtua, padahal baru bolos sehari.

17. Sering rame?
Maksudnya rame di kelas? Pasti!! Makanya aku sering ditegor sama Wandi.

18. Ada ade kelas yang rese?
Nggak sih. Di sini tuh nggak ada yang namanya adek/kakak kelas. Semuanya saling nyampur, makanya asyik! Nggak ada senioritas. Aku aja di sapa sama adek kelas-ku dengan santainya, seakan aku nggak lebih tua dari dia. Pertamanya sih kaget, tapi ya, aku menyesuaikan diri aja.

19. Kalo kakak kelas?
Yah, seperti yang aku bilang di nomor 18.

20. Boleh bawa hape ke sekolah?
Nggak boleh sih sebenernya.

21. Pernah berantem di sekolah?
Berantem yang pukul-pukulan maksudnya? Kalo kaya gitu nggak pernah. Tapi kalo berantem adu mulut sih sering, sama Murni (tapi cuma becandaan).

22. Pelajaran paling disukai?
Bahasa Inggris. Soalnya aku paling “bisa” dalam pelajaran itu.

23. Tempat favorit di sekolah?
Di kelas aja. Di luar malah males.

24. Ada kantin nggak?
Ada.

25. Suka melanggar peraturan?
Nggak. Tapi pernah.

26. Baju suka dikeluarin?
Emm..nggak sih.

27. Suka nyontek?
Ada juga temen-temen yang suka nyontek ke aku. Hihihi.

28. Nama panggilan di sekolah?
Hanna, Helena, Totok (nggak tau nih Totok artinya apaan).

29. Pesan buat angkatan di bawah kamu?
Waduh, bingung mau ngasih pesan apa. Ya, rajin belajar aja deh, biar pinter (nggak kreatif banget deh).

30. Tag?
Siapa aja yang mau ngerjain silahkan..

Banyak juga pertanyaannya. Oke segini dulu ya. Jangan lupa, tunggu postingan berikutnya! Bye!

Advertisements

Merry Christmas and Happy New Year

Semoga di tahun yang baru kita dapat meraih yang kita inginkan. Happy Holiday too! Kalo nggak tau mau liburan ke mana, lebih baik jalan-jalan ke Samosir! 🙂 Wishing you all the best for the next year!

Oke oke. Memang sepertinya postinganku kali ini agak kurang penting. Tetapi aku menulis ini sebagai penyalur rasa bahagiaku. Ini tentang rapotku yang baru dibagikan tadi.

Jadi tibalah saatnya juara-juara diumumkan di lapangan. Hari itu agak mendung, sehingga waktu pembacaan juara dipercepat. Dimulai dari kelas satu. Sebelum ini, sekertaris kelas kami, Lilis, memberi tau aku sesuatu. “Hanna, juara satu nya kau!”. Aku tidak langsung percaya karena Lilis ini orang-nya memang suka bergurau. “Ah, dari mana kau tau?” tanyaku. “Bu SS yang bilang” jawabnya. Tapi aku tetap belum percaya.

Tibalah saatnya dibacakan juara-juara dari kelas dua. Waktu pak guru itu menyebutkan juara 1-3 dari kelas 8-F, kelasku, aku mendengar namaku dipanggil. “Hanna Helena Pakpahan” begitu. Aku diam sebentar, aku juara satu? “Maju kau Hanna!” seru Dinda sambil mendorong badanku. Aku pun berjalan kedepan lapangan dengan bingung. Kami pun diberi bingkisan yang keliatannya sebuah buku tulis.

Walaupun seluruh juara dari kelas 1-3 sudah diumumkan, namun masih ada lagi pengumuman lain. Juara umum sekolah. Jadi juara umum sekolah itu terdiri dari 10 orang anak yang mewakili kelas mereka. Dimumkanlah satu per satu juara umum kelas 3, lalu kelas 2. Aku benar-benar tidak berharap. Karena jujur saja nilaiku ada 3 yang remedial. Juara satu dari kelas 8-F saja sudah bagus. Tetapi aku salah. Saat diumumkan siapa juara umum yang ke-empat, aku mendengar lagi namaku dipanggil “Hanna Helena Pakpahan”. Lagi-lagi aku berdiam sebentar, nggak mungkin, begitu pikirku. Aku juara umum urutan ke empat!!? Akupun maju ke depan dengan perasaan bercampur aduk, antara senang dan kaget. Khusus ini, pembagian bingkisan (lagi-lagi buku tulis, tapi lebih tebal) dilakukan oleh Kepala Sekolah kami. Aku benar-benar tidak menyangka. Aku juara empat umum?

Di kelas pun rapot kami dibagikan. Ternyata nilaiku memang lumayan juga. Setelah itu kami makan-makan bersama.

Teman-teman banyak yang langsung menyerbuku sehabis pengumuman. “Hanna, jangan sombong kau ya!” atau “Hanna, selamat ya kamu juara!”. Aku senang sekaligus sedih. Aku bahagia bisa mendapat juara, namun aku tidak mau meninggalkan kelas 8-F. Apalagi Murni, Kris, dan Wandi. Kamipun saling berjanji agar terus berteman walaupun berbeda kelas.

Senangnya… Tapi aku akan berusaha lebih baik lagi untuk semester mendatang!

Ancol. Mendengar itu mungkin yang langsung muncul di benak kita adalah Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta Utara. Tapi sebenarnya ada “Ancol” lain selain yang satu itu.

“Kita jalan-jalan yuk!” ajak Selly, seorang temanku. Saat itu aku, Selly, Nova, dan Murni sedang bermaksud untuk pulang. Kebetulan hari itu kami pulang cepat karena memang sudah tidak ada pelajaran. Mendengar ajakan itu, akupun merasa tertarik. “Iya nih, malas dirumah aja!” kata Murni. “Kita ke Ancol aja!” seru Nova tiba-tiba. Selly dan Murni mengangguk-angguk setuju. Tinggalah aku, merasa bingung sendiri. Ancol?

“Ancol tuh dimana ya?” ujarku pelan.

“Makanya ikut yuk!” jawab Selly.

Akhirnya aku mengikuti mereka. Aku awalnya tidak mau ikut, karena bisa-bisa aku ketinggalan becak dan nggak bisa pulang. Tapi rasa penasaranku akan “Ancol” itu membuat aku mengikuti ajakan Selly. Mereka berjalan ke arah kiri sekolah. Kami pun terus berjalan.

“Ini nih Ancol!” kata Nova.

Wow! Ternyata Ancol itu sebuah tempat di tepi Danau Toba. Tempatnya rindang dan bagus sekali. Di depannya, tepat berada rumah bupati yang besar dan megah. Pemandangannya bukan main indahnya. Bisa dibilang, keindahan Danau Toba yang terbaik yang pernah aku lihat adalah di Ancol ini. Tidak seperti biasanya, tidak tampak eceng gondok di sana.

* * *

Hari Selasa nanti kami mau pembagian rapot. Seperti murid-murid kebanyakan, aku merasa tegang tidak karuan. Yah, aku cuma berharap nilaiku bagus-bagus. Walaupun ujianku ada yang remedial. IPA, IPS, dan matematika. Yah, kan nilai rapot itu dirata-rata. Dan ulangan harianku nilainya juga bagus-bagus, sehingga aku rasa nilai rapotku tidak akan terlalu buruk.

Akhir-akhir ini teman-temanku sering berkata begini, “Hanna, kau pasti juara satu lah! Pasti!”. Kalo dibilang begitu, aku hanya bilang, “Ah, jelek-nya nilaiku.”. Lalu temanku itu pasti mengelak lagi, “Tapi kan kau pintar..bla bla bla”. Senang juga diberi semangat seperti itu sama mereka. Aku hanya berharap mudah-mudahan yang mereka bilang itu menjadi kenyataan. Tapi aku melihat seorang teman sekelasku yang lumayan pintar juga. Tak lain dan tak bukan adalah si Kristianto, salah seorang guru bahasa batak-ku. Dia luar biasa sekali dalam matematika dan ipa. Hanya dia yang tidak remedial matematika di kelas kami. Kami-pun saling mendukung satu sama lain. Aku, Murni, Kris, dan Wandi memang bersahabat, sehingga kami selalu saling mendukung dan membantu. Aku rasa dia-lah yang akan menduduki juara pertama nanti. Kita lihat saja ya.

Selain kata-kata yang tadi, akupun sering mendengar ucapan teman-temanku kepadaku seperti ini, “Hanna, kalo kamu masuk kelas-a jangan sombong sama kami ya!”. Memang, kalau kita mendapat juara dengan nilai yang cukup, kemungkinan besar kita akan dipindahkan kelasnya ke kelas a. Kelas a bisa dibilang kelas unggulan. Biasanya aku langsung menjawab kepada mereka, “Tentu saja tidak lah!”. Jujur saja, teman-teman sekelasku yang saat ini memang baik-baik. Walaupun kadang usil, tapi sebenarnya baik hati. Tentu saja aku nggak akan sombong dan lupa sama mereka.

* * *

Liburan kali ini keluarga kami lagi sibuk-sibuknya menentukan akan jalan-jalan ke mana. Kakakku bilang, dia ingin jalan-jalan ke Tuk-Tuk. Memang Tuk-Tuk tempat yang lebih terkenal dibandingkan Pangururan. Tuk-Tuk lebih banyak dikunjungi oleh turis asing daripada Pangururan. Makanya kakakku ingin sekali pergi ke sana. Kalo Mama, pengennya pergi ke Siantar. Walaupun kami sudah sering ke sana, tapi Mama pengin makan-makan dan belanja di Siantar. Kalo Bapak, lebih memilih pergi ke Tuk-Tuk karena Siantar menurutnya terlalu jauh. Sedangkan aku maunya jalan-jalan ke Pasir Putih di Ambarita. Pasir Putih itu semacam pantai. Banyak teman-temanku yang pergi ke sana liburan ini, dan aku jadi penasaran ingin ke sana. Kalo kata kakakku sih, Pasir Putih itu cantik banget. Pasirnya memang benar putih. Diapun menunjukkan foto Pasir Putih kepadaku. Dan aku setuju kepadanya, memang benar cantik Pasir Putih itu.

Kira-kira pergi ke mana ya liburan ini? Tuk-Tuk atau Pasir Putih? Atau Siantar?

Seorang temanku mengajakku jajan ke kantin sekolah. Setelah membeli makanan, temanku berkata begini, “Han, kita makan di danau yuk!”. Aku-pun mengangguk kepadanya. Memang sekolahku langsung dekat dengan Danau Toba. Bisa dibilang sekolahku tuh Lakeside School. Itu istilah kerennya, hahaha.

Kami pun berdiri di pinggir danau sambil memakan jajanan yang kami beli tadi. Indahnya, begitu pikirku saat melihat Danau Toba. Sayang sekali, banyak terdapat eceng gondok di pinggiran Danau Toba tersebut. Eceng gondok itu telah membentuk sebuah “pulau kecil”. Mengganggu pemandangan saja. Dari mana sih asalnya semua eceng gondok ini? Eceng gondok yang benar-benar bikin gondok. Heem, seandainya semua eceng gondok ini dapat dimusnahkan dari Danau Toba, pasti keindahaan Danau Toba akan semakin terasa. Selain eceng gondok, banyak juga terdapat sampah bungkus plastik makanan yang menggenangi permukaan air. Aku benar-benar sedih melihatnya. Murid-murid yang makan di sini pasti membuang sampahnya di danau. Apa mereka nggak sadar bahwa Danau Toba (sebenarnya) adalah tujuan wisata dunia? Beginikah Danau Toba diperlakuan oleh warga disekitarnya? Dijadikan sebagai tempat sampah. Ironisnya, sebenarnya di situ sudah tersedia tong sampah berukuran besar, yang tidak mungkin lewat dari mata. Jadi mereka lebih memilih membuang sampah di danau daripada di tempat sampah? Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya berjanji pada diri sendiri, kalau aku melihat orang yang membuang sampah sembarangan, khususnya ke danau, aku akan menegurnya.

Sampai temanku itu meremas-remas bungkus makanannya, dan akhirnya membuangnya ke danau, sebelum aku sadar dari lamunanku. Aku sangat menyesal telah melewatkan kesempatan pertamaku untuk mencegah seseorang membuang sampah ke danau. Yah, paling tidak aku harus menegurnya. “Des, kamu tuh gimana sih. Jangan buang sampah ke danau dong!” aku berkata kepadanya. Dia memberiku tatapan bingung, “Emm?” katanya. Aku langsung menerobos, “Kamu tau nggak, Danau Toba itu tujuan wisata dunia! Banyak orang menganggumi keindahan Danau Toba. Tapi kita sendiri, yang tinggal di sekitarnya, yang harusnya merawat Danau Toba, malah membuang sampah ke sana.” Mendengar semua kata-kataku, teman ku berdiam diri sebentar. “Benar ya, lain kali aku nggak buang sampah ke danau deh.” Begitu respon dia. Aku tersenyum padanya, “Nah, gitu dong!”

Janjiku untuk menegur setiap orang yang membuang sampah sembarangan itu lama-kelamaan semakin sulit aku tepati. Karena ternyata tidak cuma anak-anak sekolah yang membuang sampah sembarangan, tetapi juga amang-amang, inang-inang, ompung-ompung, pokoknya orang dewasa. Yah, susah juga kalau aku menegur mereka. Bisa-bisa aku didamprat habis-habisan. Aku pasti dibilang tidak sopan.

Mereka bener-bener nggak tau ya kalo kabupaten samosir tuh punya visi menjadi kabupaten pariwisata pada tahun 2010 nanti? Mereka nggak sadar ya kalau mereka harusnya bertindak sebagai seorang warga kabupaten pariwisata? Yang harusnya ramah, tidak gampang marah, dan pastinya perduli akan kebersihan. Karena memang menurut aku, tidak hanya keindahan objek pariwisata itu yang penting, tetapi juga warga sekitar yang ramah dan senang membantu. Sebagai gambarannya nih, kalo misalnya seorang turis asing berkunjung ke suatu daerah yang luar biasa indah, tetapi warga sekitar tempat itu sangat sombong dan tidak ramah jika ditanya (misalnya turis itu bertanya arah jalan, tetapi malah dijawab dengan ketus oleh warga sekitar), tentu turis itu enggan juga kembali ke sana.

Temanku yang aku ceritakan tadi kan setuju dengan apa yang aku katakan. Namun banyak juga teman-temanku yang tidak perduli akan kata-kataku, bahkan tertawa. Aku bener-bener nggak habis pikir. “Ah, nggak apa-apa lah, cuma satu ini” begitu kilah teman yang aku tegur tadi pagi, saat dia membuang sampah di depan gerbang sekolah. Apa sih yang harus aku bilang supaya mereka sadar? Kalau anak-anak cowok yang aku tegur biasanya ketawa aja dengerin ceramaku tentang “kabupaten pariwisata”. “Kabupaten pariwisata, ate!” begtu seruan mereka kepadaku, yang kira-kira artinya “Ceileh, kabupaten pariwisata.” Yah, mereka merendahkan.

Aku rasa satu-satu nya cara adalah penyuluhan dari pemerintah kabupaten Samosir. Mereka harus disadarkan bahwa mereka adalah warga dari kabupaten yang bervisi menjadi kabupaten pariwisata. Visi itu jelas nggak akan terwujud tanpa keikutsertaan warganya. Makanya mereka harus bersikap layaknya seorang warga kabupaten pariwisata. Yang ramah, menjaga kebersihan, dan mau membantu. Juga tidak menipu. Wah, indahnya kalo warga samosir seperti itu. Aku harap suatu saat nanti mereka akan mengerti.

Wah wah,  aku dapet award nih dari Fariha. Makasih ya Fariha! Semangat terus ngeblog!

award2

Rules:
1. put the logo on your blog
2. add a link to the person who awarded you
3. nominate at least 7 other blogs
4. add link to those blogs on yours
5. leave a message for your nominees on their blog

Yang Dapet:
1. Disa Houzuki
2. Akacchi
3. Rara
4. Accan
5. Michael Siregar
6. Lulu
7. Leemoen

Ayo ngeblog!!!

Ujian semester ini sebenernya belum selesai. Cuma tinggal hari Senin nanti, itu juga cuma ujian penjaskes. Jadi, aku bisa ngepost nih. Akhirnya ngepost juga, udah gatel tanganku mau ngetak-ngetik di komputer.

Akhir-akhir ini aku lagi sering nonton berita di tv. Banyak banget berita-berita yang nggak menyenangkan. Yang lagi sering diberitakan itu kalo nggak salah masalah kelangkaan gas elpiji sama kelangkaan pupuk. Di berita di tampilin, gimana ibu ibu di Jakarta pada sibuk nyari gas elpiji. Kalaupun ada, harganya melunjak drastis. Akhirnya ibu ibu itu pada mengganti gas elpijinya dengan kayu bakar (soalnya minyak tanah mahal juga). Wah, kayaknya susah banget ya tinggal di Jakarta sekarang-sekarang ini? Terus juga pupuk. Karena susah mendapatkan pupuk, para petani pada demo. Fuuh, susahnya. Mudah mudahan permasalahan ini bakalan selesai.

Oh ya. Katanya murid murid di Jakarta bakalan masuk sekolah jam setengah tujuh ya? Duh, pagi banget ya. Ngerasa beruntung juga sih aku, orang masuk jam tujuh aja aku suka ngaret masuk sekolah. Gimana jam setengah tujuh? Maklum, rumah-ku jauh dari sekolah. Terus katanya lagi bus sekolah mau diaktifkan ya? Seru ya, nggak bayar lagi. Coba ada bus sekolah di samosir. Hahaha. Kalo di samosir sih, adanya cuma mobil pintar. Bener loh, di sini banyak banget mobil pintar. Tau kan mobil pintar? Yang isinya buku semua itu. Banyak banget temen-temenku yang main ke mobil pintar habis pulang sekolah. Kalo aku perhatiin sih, ternyata minat baca temen-temenku di sini lumayan besar juga. Mereka seneng banget keliatannya sama mobil pintar ini.

Emm, berita apa lagi ya? Haha segitu dulu lah. Aku cuma berharap mudah-mudahan semuanya itu bisa terselesaikan. Oh ya, doakan aku ya supaya nilai ujian ku bagus dan nggak ada yang remedial!

See you!