Kemarin Mama mengajak aku dan kakakku pergi berlayar naik kapal mengelilingi danau Toba. Mama diajak oleh temannya. Rencana ini memang sudah Mama beritahu seminggu yang lalu. Namun, karena acara ini diadakan hari Sabtu, kami agak bimbang mau ikut. Hari Sabtu kan masih masuk sekolah. Tapi karena kesempatan seperti ini nggak datang sering-sering, jadi aku dan kakakku ijin tidak masuk sekolah. Bapak tidak ikut karena dia sedang di Siantar.

Kami pun sudah bangun pagi-pagi sekitar jam lima. Kami benar-benar diburu waktu, karena kata Mama kami akan dijemput jam tujuh. Eh, nggaktaunya, kami dijemput jam setengah sepuluh. Sayang juga, soalnya melihat-lihat Danau kan lebih enak pagi-pagi. Nah, akhirnya kami sampai di hotel Carolina di tuk-tuk. Hotel Carolina ini memang salah satu hotel terbaik di tuk-tuk. Aku melihat banyak turis asing di restoran Carolina. Sambil menunggu kapalnya siap berangkat, kami memesan pancake. Aku memang sudah lapar.

restoran carolina

restoran carolina

Kapal pun siap berangkat. Aku, Mama, dan kakakku naik ke kapal yang tidak terlalu besar itu. Kapal itu penuh dengan staf-staf dari kantor teman Mama. Akupun langsung siaga menggenggam kamera, pasti akan ada banyak pemandangan bagus. Mama sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Lalu aku baru sadar akan sesuatu, ternyata ada pemain musik batak (Apa ya istilahnya? Ada yang tau?) yang bermain di bagian atas kapal. Aku dan kakakku diajak oleh salah satu teman Mama itu untuk duduk di atas sambil mendengarkan musik Batak itu. Kamipun duduk di atas. Wah memang musik Batak ini, indah sekali. Kalau mendengarnya memang aku nggak bisa menahan diri untuk menggerakan badan sesuai irama. Lalu aku memperhatikan sesuatu. Pemain gondangnya (gendang dalam bahasa batak) adalah seorang anak laki-laki yang masih duduk di sekolah dasar. Dia mengenakan pakaian pramuka. Wah, hebat juga dia, begitu pikirku.

picture-028

pemain musik batak di kapal

Tanpa kami sadari, kami sudah lumayan jauh dari tuk-tuk. Danau Toba benar-benar terlihat seperti laut yang tak berujung, luas sekali. Aku benar-benar kagum. Di kapal, kami semua bernyanyi alias marende bersama-sama. Lagu-lagu batak itu masih asing ditelingaku, tapi aku benar-benar menikmatinya. Memang orang batak kalau sudah menyangkut musik dan nyanyi, hebat sekali.

Setelah beberap jam kamipun mulai makan siang. Lauknya adalah masakan-masakan khas batak. Ada saksang, arsik, dan sup. Saksangnya pedas sekali. Perutku jadi agak nggak enak sehabis makan. Tapi untungnya setelah itu perutku membaik.

Karena perjalanan sudah agak lama, kapalnya butuh istirahat supaya tidak terlalu panas. Kamipun transit di Kecamatan Sitio-tio. Kata Mama di Sitio-tio ini terkenal dengan banyaknya orang yang kurang waras alias gila. Benar saja, baru saja aku berjalan beberapa langkah, aku langsung melihat orang yang gelagatnya tidak waras. Waah, jadi nggak enak juga aku. Tapi salah seorang teman Mama mengajak kami untuk melihat-lihat. Sitio-tio ini memang terlihat masih seperti desa sekali. Jalannya menanjak ke atas, dan benar-benar sepi. Lalu tiba-tiba seorang opung boru mendatangi kami. Mulutnya merah-merah karena dia sedang memakan sirih. Dia menyapa kami. “Boru aha do ho?” (“Kamu boru apa?” boru artinya nama keluarga) sambil menyalami kami. “Pakpahan” kata Kakakku pendek, karena memang dia nggak bisa ngomong lagi. “Ho? Sarupa do?” (Kau? Apa sama dengan dia?”) kata si Opung. “Ido Opung.” Kataku sambil tersenyum. Dari jauh, teman mama memberitau si Opung bahwa kami nggak bisa bahasa Batak. Lalu si opung menjawab, bahwa kami tadi menjawab pertanyaan dia yang dalam bahasa batak. Kamipun mengobrol. Opung dan teman mama itu mengobrol dalam bahasa batak yang sedikit-sedikit aku tau. Lalu ada teman si opung ikut mendatangi kami. Dia menyalami kami. Percakapan pun berlanjut sampai teman si Opung itu berkata bahwa anak laki-lakinya tampan. Ternyata kami mau dikenalkan! Ya ampun….Kamipun tertawa bersama-sama. Untunglah cuma basa-basi.

sitio-tio

sitio-tio

Setelah kapal siap berangkat kembali, kami pun pulang. Dalam perjalanan pulang, semua penumpang manortor (istilah untuk “menari” dalam bahasa batak) di bagian atas kapal diiring oleh musik batak. Setelah sudah mendekati pangururan, akupun melihat SMP-ku dari jauh. Wah, bagus juga sekolahku dilihat dari danau. Nah, ada kendala yang lumayan membuat cemas waktu kami sudah melewati Pangururan.. Waktu kapal mau melewati bagian bawah jembatan Tano Ponggol (Tano Ponggol itu jembatan yang menyambung pulau Samosir dengan Pulau Sumatera), kapalnya nggak bisa jalan lurus ke tengah dan hampir menabrak jembatan, tapi langusng ditahan dengan kaki oleh penumpang laki-laki. Lalu sebagian penumpan laki-laki pun terjun ke air dan membantu kapal agar ke tengah. Aku nggak tau bagaimana, yang jelas prosesnya lama sekali. Banyak orang yang menonton dari atas jembatan. Akhirnya kapal pun bisa lewat dan kami kembali duduk di tempat masing-masing.

kapal kami terjebak di tano ponggol

kapal kami terjebak di tano ponggol

Kami akhirnya sampai kembali ke Carolina. Waktu itu pukul sembilan malam, dan aku lapar lagi. Kamipun memesan makanan. Dan setelah selesai makan, kami pulang diantar oleh teman mama itu. Setelah itu kami mengucapkan terimakasih. Aku langsung tertidur setelah berganti pakaian. Akhirnya, mengelilingi Danau Toba juga, begitu pikirku sebelum tidur.