mind share


Seorang temanku mengajakku jajan ke kantin sekolah. Setelah membeli makanan, temanku berkata begini, “Han, kita makan di danau yuk!”. Aku-pun mengangguk kepadanya. Memang sekolahku langsung dekat dengan Danau Toba. Bisa dibilang sekolahku tuh Lakeside School. Itu istilah kerennya, hahaha.

Kami pun berdiri di pinggir danau sambil memakan jajanan yang kami beli tadi. Indahnya, begitu pikirku saat melihat Danau Toba. Sayang sekali, banyak terdapat eceng gondok di pinggiran Danau Toba tersebut. Eceng gondok itu telah membentuk sebuah “pulau kecil”. Mengganggu pemandangan saja. Dari mana sih asalnya semua eceng gondok ini? Eceng gondok yang benar-benar bikin gondok. Heem, seandainya semua eceng gondok ini dapat dimusnahkan dari Danau Toba, pasti keindahaan Danau Toba akan semakin terasa. Selain eceng gondok, banyak juga terdapat sampah bungkus plastik makanan yang menggenangi permukaan air. Aku benar-benar sedih melihatnya. Murid-murid yang makan di sini pasti membuang sampahnya di danau. Apa mereka nggak sadar bahwa Danau Toba (sebenarnya) adalah tujuan wisata dunia? Beginikah Danau Toba diperlakuan oleh warga disekitarnya? Dijadikan sebagai tempat sampah. Ironisnya, sebenarnya di situ sudah tersedia tong sampah berukuran besar, yang tidak mungkin lewat dari mata. Jadi mereka lebih memilih membuang sampah di danau daripada di tempat sampah? Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya berjanji pada diri sendiri, kalau aku melihat orang yang membuang sampah sembarangan, khususnya ke danau, aku akan menegurnya.

Sampai temanku itu meremas-remas bungkus makanannya, dan akhirnya membuangnya ke danau, sebelum aku sadar dari lamunanku. Aku sangat menyesal telah melewatkan kesempatan pertamaku untuk mencegah seseorang membuang sampah ke danau. Yah, paling tidak aku harus menegurnya. “Des, kamu tuh gimana sih. Jangan buang sampah ke danau dong!” aku berkata kepadanya. Dia memberiku tatapan bingung, “Emm?” katanya. Aku langsung menerobos, “Kamu tau nggak, Danau Toba itu tujuan wisata dunia! Banyak orang menganggumi keindahan Danau Toba. Tapi kita sendiri, yang tinggal di sekitarnya, yang harusnya merawat Danau Toba, malah membuang sampah ke sana.” Mendengar semua kata-kataku, teman ku berdiam diri sebentar. “Benar ya, lain kali aku nggak buang sampah ke danau deh.” Begitu respon dia. Aku tersenyum padanya, “Nah, gitu dong!”

Janjiku untuk menegur setiap orang yang membuang sampah sembarangan itu lama-kelamaan semakin sulit aku tepati. Karena ternyata tidak cuma anak-anak sekolah yang membuang sampah sembarangan, tetapi juga amang-amang, inang-inang, ompung-ompung, pokoknya orang dewasa. Yah, susah juga kalau aku menegur mereka. Bisa-bisa aku didamprat habis-habisan. Aku pasti dibilang tidak sopan.

Mereka bener-bener nggak tau ya kalo kabupaten samosir tuh punya visi menjadi kabupaten pariwisata pada tahun 2010 nanti? Mereka nggak sadar ya kalau mereka harusnya bertindak sebagai seorang warga kabupaten pariwisata? Yang harusnya ramah, tidak gampang marah, dan pastinya perduli akan kebersihan. Karena memang menurut aku, tidak hanya keindahan objek pariwisata itu yang penting, tetapi juga warga sekitar yang ramah dan senang membantu. Sebagai gambarannya nih, kalo misalnya seorang turis asing berkunjung ke suatu daerah yang luar biasa indah, tetapi warga sekitar tempat itu sangat sombong dan tidak ramah jika ditanya (misalnya turis itu bertanya arah jalan, tetapi malah dijawab dengan ketus oleh warga sekitar), tentu turis itu enggan juga kembali ke sana.

Temanku yang aku ceritakan tadi kan setuju dengan apa yang aku katakan. Namun banyak juga teman-temanku yang tidak perduli akan kata-kataku, bahkan tertawa. Aku bener-bener nggak habis pikir. “Ah, nggak apa-apa lah, cuma satu ini” begitu kilah teman yang aku tegur tadi pagi, saat dia membuang sampah di depan gerbang sekolah. Apa sih yang harus aku bilang supaya mereka sadar? Kalau anak-anak cowok yang aku tegur biasanya ketawa aja dengerin ceramaku tentang “kabupaten pariwisata”. “Kabupaten pariwisata, ate!” begtu seruan mereka kepadaku, yang kira-kira artinya “Ceileh, kabupaten pariwisata.” Yah, mereka merendahkan.

Aku rasa satu-satu nya cara adalah penyuluhan dari pemerintah kabupaten Samosir. Mereka harus disadarkan bahwa mereka adalah warga dari kabupaten yang bervisi menjadi kabupaten pariwisata. Visi itu jelas nggak akan terwujud tanpa keikutsertaan warganya. Makanya mereka harus bersikap layaknya seorang warga kabupaten pariwisata. Yang ramah, menjaga kebersihan, dan mau membantu. Juga tidak menipu. Wah, indahnya kalo warga samosir seperti itu. Aku harap suatu saat nanti mereka akan mengerti.

Wah, dah lama ga nge-post. Mata kananku lagi bintitan nih… Pertama di atas, skarang di bawah. Hiks, sakit dan perih banget. Ada yg tau cara ngobatin bintitan? Help me please!

Waktu aku baru pertama kali datang ke SMP Negeri 1 Pangururan, aku merasa sangat canggung. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku. Bagaimana dengan teman-teman di sekolah? Bahasa apa yang harus kupakai? Pelajarannya susah atau gampang? Yah namanya juga lingkungan baru. Tapi, nggak pernah satu kali pun aku menanyakan pada diriku, bagaiman guru-gurunya?

Kalo di jakarta, guru dan murid sudah layaknya teman dekat. Jadi inget waktu di ozone deh. Aku deket sama Ms Rini, guru bahasa inggris-ku. Kami bisa ngobrol dengan santai begitulah. Kadang kadang aku memuji dia seperti, “miss rini hari ini cantik banget”. Terus miss rini bakal bilang “ah, yang bener?”. Duh jadi inget juga, waktu acara perpisahan kelas, miss rini bilang begini, “kalo hanna pindah, siapa yang akan memuji ibu lagi?”. Bener deh, kata-kata itu bikin aku sedih dan terharu banget. Ternyata pujianku itu ngena di hati miss rini.

Karena dekat dengan seorang guru, aku malah semakin menghormati dia. Semakin menghargai dia.

Lain halnya dengan guru di SMP ku sekarang. Aku kaget banget waktu ngeliat guru-guru di SMP itu. Mereka dengan mudahnya main fisik kalo ada seorang anak yang berbuat kesalahan. Gimana ngejelasinnya ya? Oke, pake contoh aja ya. Misalnya, guru matematika-ku. Ada temenku yang nggak ngerjain pr. Biasanya kan yang nggak ngerjain pr di setrap di depan kelas. Tapi, ini nggak cuma disetrap. Tiba-tiba, tuh guru matematika mencubit perut temen-temenku satu persatu. Gila buset dah. Buat sekedar informasi, kalo perut dicubit tuh rasanya sakit sungguh luar biasa. Karena otot perut kan jarang bergerak, jadi sensitif (ini kata bapakku loh, bener gak?). Lain halnya dengan kulit di bagian siku, mau dicubit ampe jarinya kebas juga gak bakal kesakitan.

Yah, sadis memang. Ada lagi yang lain, yang nggak terlalu menyakitkan, tapi memalukan. Ditampar. Banyak tuh, temen-temenku yang nggak ngerjain pr atau ribut di kelas, pada ditamparin sama guru-guru. Oh, kadang-kadang juga guru-guru suka memukul telapak tangan siswanya yang berulah pake tongkat kayu atau penggaris. Atau dijitak kepalanya. Bunyi jitakannya itu loh, yang denger aja ngerasa sakit, apalagi yang dijitak.

Kalo aku denger dari pidato-pidato setiap apel pagi, mereka tuh main fisik sama muridnya, karena muridnya nggak akan bisa dibilangin kalo nggak digituin. Katanya, guru-guru tuh pengen supaya murid-muridnya bisa disiplin dan penurut. Tapi kalo karena takut dipukul, seorang murid jadi patuh, kan sama aja boong?

Yah, aku emang bukan orang yang berpendidikan soal psikologi2 yang begituan. Tapi menurut aku sih, kalo guru bermain fisik sama muridnya, muridnya bakal meniru tindakan guru itu. Si murid ini bakal berpikir “Oh, jadi kalo ada orang yang membuat aku sebel, langsung di pukul saja”, yah jadi deh, murid yang suka main pukul. Menurut aku, memukul orang karena dia berbuat salah itu nggak mendidik. Iya nggak, kak seto?

Kenapa nggak dibilang baik-baik sih. Ada satu contoh. Karena guru bahasa inggrisku lagi cuti hamil, ada guru pengganti yang namanya Ibu KS (ini bukan nama samaran, tapi memang di sini memanggil guru pake inisialnya). Ibu KS tuh guru paling bijaksana-dalam-mendidik yang pernah aku lihat di SMP 1. Dia nggak pernah mukul, nyubit, atau nampar. Dia mengajar bahasa inggris dengan bagus banget. Karena Ibu KS ini tau gimana level bhs inggris temen2ku, Ibu KS mulai dengan pertanyaan “bagaiman pendapat kamu ttg bahasa inggris?” terus juga, “apa tujuanmu belajar bahas inggris?”. Baru deh belajar. Yang bikin aku suka sama dia, dia tuh selelu memuji murid-muridnya. Kalo ada temanku yang menjawab pertanyaan dia, dia akan menjawab “very good” dengan nada yang memotivasi. Kalo jawabannya-pun salah, dia bakal menjawab “good, but..” terus dia betulin deh. Bener-bener memotivasi.

Yah, yang aku mau bilang buat guru-guru di SMP 1, please bapak ibu guru yang aku hormati. Jangan main fisik sama kami murid-muridmu. Tau kah bapak dan ibu? Kami justru semakin menghormati, menghargai, dan mematuhi kata-kata bapak ibu guru sekalian jika bapak mendisiplinkan kami tanpa main fisik sama kami. Terima kasih.