Oke oke. Memang sepertinya postinganku kali ini agak kurang penting. Tetapi aku menulis ini sebagai penyalur rasa bahagiaku. Ini tentang rapotku yang baru dibagikan tadi.

Jadi tibalah saatnya juara-juara diumumkan di lapangan. Hari itu agak mendung, sehingga waktu pembacaan juara dipercepat. Dimulai dari kelas satu. Sebelum ini, sekertaris kelas kami, Lilis, memberi tau aku sesuatu. “Hanna, juara satu nya kau!”. Aku tidak langsung percaya karena Lilis ini orang-nya memang suka bergurau. “Ah, dari mana kau tau?” tanyaku. “Bu SS yang bilang” jawabnya. Tapi aku tetap belum percaya.

Tibalah saatnya dibacakan juara-juara dari kelas dua. Waktu pak guru itu menyebutkan juara 1-3 dari kelas 8-F, kelasku, aku mendengar namaku dipanggil. “Hanna Helena Pakpahan” begitu. Aku diam sebentar, aku juara satu? “Maju kau Hanna!” seru Dinda sambil mendorong badanku. Aku pun berjalan kedepan lapangan dengan bingung. Kami pun diberi bingkisan yang keliatannya sebuah buku tulis.

Walaupun seluruh juara dari kelas 1-3 sudah diumumkan, namun masih ada lagi pengumuman lain. Juara umum sekolah. Jadi juara umum sekolah itu terdiri dari 10 orang anak yang mewakili kelas mereka. Dimumkanlah satu per satu juara umum kelas 3, lalu kelas 2. Aku benar-benar tidak berharap. Karena jujur saja nilaiku ada 3 yang remedial. Juara satu dari kelas 8-F saja sudah bagus. Tetapi aku salah. Saat diumumkan siapa juara umum yang ke-empat, aku mendengar lagi namaku dipanggil “Hanna Helena Pakpahan”. Lagi-lagi aku berdiam sebentar, nggak mungkin, begitu pikirku. Aku juara umum urutan ke empat!!? Akupun maju ke depan dengan perasaan bercampur aduk, antara senang dan kaget. Khusus ini, pembagian bingkisan (lagi-lagi buku tulis, tapi lebih tebal) dilakukan oleh Kepala Sekolah kami. Aku benar-benar tidak menyangka. Aku juara empat umum?

Di kelas pun rapot kami dibagikan. Ternyata nilaiku memang lumayan juga. Setelah itu kami makan-makan bersama.

Teman-teman banyak yang langsung menyerbuku sehabis pengumuman. “Hanna, jangan sombong kau ya!” atau “Hanna, selamat ya kamu juara!”. Aku senang sekaligus sedih. Aku bahagia bisa mendapat juara, namun aku tidak mau meninggalkan kelas 8-F. Apalagi Murni, Kris, dan Wandi. Kamipun saling berjanji agar terus berteman walaupun berbeda kelas.

Senangnya… Tapi aku akan berusaha lebih baik lagi untuk semester mendatang!

Advertisements