Hello again, all! Kemarin adalah hari ulang tahun Kabupaten Samosir yang ke-5. Dari tanggal 6 Januari, sudah banyak acara terselenggara. Mulai dari lomba manortor (tarian batak) sampai pawai. Sayang aku tidak mengikuti acara-acara tersebut. Aku hanya mendengarkan cerita dari mamaku saja.

Katanya Judika Sihotang juga mengisi acara di sana? Aku juga tidak tau. Kalau benar dia mengisi acara, sayang sekali aku nggak nonton. Heem…

Waktu mama kemarin pulang dari perayaan hut Kabupaten Samosir, mama membawa teks lagu “Mars Samosir” dan “O Tano Batak”. Hampir semua sudah tau lagu “O Tano Batak” (khususnya orang batak), namun “Mars Samosir” mungkin belum terlalu dikenal. Memang kata mama lagu ini baru diciptakan kira-kira setahun yang lalu oleh Drs. Bonar Gultom. Aku sendiri belum tau nadanya seperti apa. Nih, liriknya kutampilkan di bawah sini.

Mars Samosir (Drs.Bonar Gultom/Gorga)

Samosir kabupaten idolaku yang kucinta tempat aku dilahirkan bunda,
Tempatku berkenalan dengan hidup, dengan dunia dan tempatku k’lak menutup mata
Tlah tiba kini saat yang tepat dan yang sempurna aku harus turut membangunnya
Kerahkan s’gala daya dan upaya agar maju, makin makmur dan makin sejahtera

Ya aku sangat cinta kau pulau Samosir, dan aku sangat sayang kau o Danau Toba
Kuucap syukur pada Tuhan Maha Kuasa
Tiada tempat dimanapn seindah kau (seindah kau)
Samosir tempat asalku yang indah, serta kuat dan termashyur di seluruh dunia
Kan kubangun engkau makmur, serta aman dan sejahtera
Samosirku ku cinta kau

Ya aku sangat cinta kau pulau Samosir, dan aku sangat sayang kau o Danau Toba
Kuucap syukur pada Tuhan Maha Kuasa
Tiada tempat dimanapn seindah kau (seindah kau)
Samosir tempat asalku yang indah, serta kuat dan termashyur di seluruh dunia
Kan kubangun engkau makmur, serta aman dan sejahtera
Samosirku ku cinta kau, kucinta kau benar, kusayang kau benar
Akan kubangun kau, Samosirku kucinta kau

Ya, aku sangat mencintai Pulau Samosir dan Danau Toba. Liriknya indah ya? Nah, yang satu lagi lirik lagu “O Tano Batak”.

O Tano Batak

O Tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho
Ndang olo modom, ndang nok matangku
Sai na malungun do au sai naeng tu ho.

O Tano Batak andigan sahat
Haholonganku tano hagondanganki
O Tano Batak sai tong hutatap au on naeng mian di ho sambulongki

Molo dung binsar mata ni ari, lao panapuhon hauma i
Godang do ngolu siganup ari, di namaringan di ho sambulongki

Sebenarnya aku mau mengartikannya, tapi aku cuma bisa mengartikan satu kalimat awal. “O Tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho”. Kira-kira artinya, “Tanah Batak kesayanganku, aku selalu rindu padamu”. Bener nggak tuh? Setelah itu aku udah nggak ngerti lagi..-__-…Ada yang bisa bantu aku mengartikannya?

* * *
Wah, lagi banyak berita beredar tentang anak-anak sekolah yang terlambat ya? Memang mulai dari bulan Januari anak-anak sekolah di Jakarta masuk sekolah dari jam setengah tujuh. Susah juga ya buat anak-anak yang bersekolah di Jakarta. Memang yang bersekolah di Jakarta bukan hanya anak-anak yang tinggal di Jakarta, yang dari Bekasi juga. Aku juga dulu sekolah di Jakarta, walaupun rumah di Bekasi. Aku nggak bisa bayangin kalau aku masih sekolah di Jakarta, aku harus bangun jam berapa?

Seorang temanku mengajakku jajan ke kantin sekolah. Setelah membeli makanan, temanku berkata begini, “Han, kita makan di danau yuk!”. Aku-pun mengangguk kepadanya. Memang sekolahku langsung dekat dengan Danau Toba. Bisa dibilang sekolahku tuh Lakeside School. Itu istilah kerennya, hahaha.

Kami pun berdiri di pinggir danau sambil memakan jajanan yang kami beli tadi. Indahnya, begitu pikirku saat melihat Danau Toba. Sayang sekali, banyak terdapat eceng gondok di pinggiran Danau Toba tersebut. Eceng gondok itu telah membentuk sebuah “pulau kecil”. Mengganggu pemandangan saja. Dari mana sih asalnya semua eceng gondok ini? Eceng gondok yang benar-benar bikin gondok. Heem, seandainya semua eceng gondok ini dapat dimusnahkan dari Danau Toba, pasti keindahaan Danau Toba akan semakin terasa. Selain eceng gondok, banyak juga terdapat sampah bungkus plastik makanan yang menggenangi permukaan air. Aku benar-benar sedih melihatnya. Murid-murid yang makan di sini pasti membuang sampahnya di danau. Apa mereka nggak sadar bahwa Danau Toba (sebenarnya) adalah tujuan wisata dunia? Beginikah Danau Toba diperlakuan oleh warga disekitarnya? Dijadikan sebagai tempat sampah. Ironisnya, sebenarnya di situ sudah tersedia tong sampah berukuran besar, yang tidak mungkin lewat dari mata. Jadi mereka lebih memilih membuang sampah di danau daripada di tempat sampah? Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya berjanji pada diri sendiri, kalau aku melihat orang yang membuang sampah sembarangan, khususnya ke danau, aku akan menegurnya.

Sampai temanku itu meremas-remas bungkus makanannya, dan akhirnya membuangnya ke danau, sebelum aku sadar dari lamunanku. Aku sangat menyesal telah melewatkan kesempatan pertamaku untuk mencegah seseorang membuang sampah ke danau. Yah, paling tidak aku harus menegurnya. “Des, kamu tuh gimana sih. Jangan buang sampah ke danau dong!” aku berkata kepadanya. Dia memberiku tatapan bingung, “Emm?” katanya. Aku langsung menerobos, “Kamu tau nggak, Danau Toba itu tujuan wisata dunia! Banyak orang menganggumi keindahan Danau Toba. Tapi kita sendiri, yang tinggal di sekitarnya, yang harusnya merawat Danau Toba, malah membuang sampah ke sana.” Mendengar semua kata-kataku, teman ku berdiam diri sebentar. “Benar ya, lain kali aku nggak buang sampah ke danau deh.” Begitu respon dia. Aku tersenyum padanya, “Nah, gitu dong!”

Janjiku untuk menegur setiap orang yang membuang sampah sembarangan itu lama-kelamaan semakin sulit aku tepati. Karena ternyata tidak cuma anak-anak sekolah yang membuang sampah sembarangan, tetapi juga amang-amang, inang-inang, ompung-ompung, pokoknya orang dewasa. Yah, susah juga kalau aku menegur mereka. Bisa-bisa aku didamprat habis-habisan. Aku pasti dibilang tidak sopan.

Mereka bener-bener nggak tau ya kalo kabupaten samosir tuh punya visi menjadi kabupaten pariwisata pada tahun 2010 nanti? Mereka nggak sadar ya kalau mereka harusnya bertindak sebagai seorang warga kabupaten pariwisata? Yang harusnya ramah, tidak gampang marah, dan pastinya perduli akan kebersihan. Karena memang menurut aku, tidak hanya keindahan objek pariwisata itu yang penting, tetapi juga warga sekitar yang ramah dan senang membantu. Sebagai gambarannya nih, kalo misalnya seorang turis asing berkunjung ke suatu daerah yang luar biasa indah, tetapi warga sekitar tempat itu sangat sombong dan tidak ramah jika ditanya (misalnya turis itu bertanya arah jalan, tetapi malah dijawab dengan ketus oleh warga sekitar), tentu turis itu enggan juga kembali ke sana.

Temanku yang aku ceritakan tadi kan setuju dengan apa yang aku katakan. Namun banyak juga teman-temanku yang tidak perduli akan kata-kataku, bahkan tertawa. Aku bener-bener nggak habis pikir. “Ah, nggak apa-apa lah, cuma satu ini” begitu kilah teman yang aku tegur tadi pagi, saat dia membuang sampah di depan gerbang sekolah. Apa sih yang harus aku bilang supaya mereka sadar? Kalau anak-anak cowok yang aku tegur biasanya ketawa aja dengerin ceramaku tentang “kabupaten pariwisata”. “Kabupaten pariwisata, ate!” begtu seruan mereka kepadaku, yang kira-kira artinya “Ceileh, kabupaten pariwisata.” Yah, mereka merendahkan.

Aku rasa satu-satu nya cara adalah penyuluhan dari pemerintah kabupaten Samosir. Mereka harus disadarkan bahwa mereka adalah warga dari kabupaten yang bervisi menjadi kabupaten pariwisata. Visi itu jelas nggak akan terwujud tanpa keikutsertaan warganya. Makanya mereka harus bersikap layaknya seorang warga kabupaten pariwisata. Yang ramah, menjaga kebersihan, dan mau membantu. Juga tidak menipu. Wah, indahnya kalo warga samosir seperti itu. Aku harap suatu saat nanti mereka akan mengerti.