Semester baru udah dimulai! Mungkin yang di sana sudah memulai semester baru sejak tanggal 5 Januari ya? Tapi kalau di sini, semester baru mulainya tanggal 19 Januari. Wah, sudah lama juga nggak ke sekolah, tadi jadi agak terlambat bangun. Udah kebiasaan bangun siang sih selama liburan ini. Hehehe.

Di sekolah sebenernya belum mulai belajar. Tadi di kelas kami cuma main-main dan melepas rindu aja. Aku, Murni, Kris, dan Wandi nggak berhenti-berhentinya mengobrol. Kami membicarakan segala hal. Yah, mungkin hari ini adalah hari terakhir kami untuk bersua seperti ini, karena kemungkinan besar aku akan pindah kelas ke kelas a. Walaupun itu juga belum pasti. Kami asyik sekali mengobrol. Boleh aku certain ya..?

Kami bercerita tentang bertani. Wandi dan Kris bertanya begini sama aku, “Hanna, kesawah nya kau habis pulang sekolah?”. Aku menggelengkan kepalaku seraya berkata “Nggak..”. Mereka kelihatan kaget sekali. “Nggak ada sawahmu?” tanya Wandi. “Nggak..” jawab-ku. Lalu aku tanya sama Murni, “Murni, emang kamu pernah ke sawah?”. “Bukan pernah lagi! Dulu aku waktu di dolok sanggul selalu ke sawah setiap pulang sekolah!” Begitu jawabnya. Akhirnya kami berbicara tentang bertani dan panen. Pembicaraan tentang panen inilah yang paling asyik, soalnya mereka bertiga (Wandi, Kris dan Murni) sangat bersemangat menceritakannya padaku. Dari mereka aku jadi tau tentang bertani dan panen yang belum aku tau sebelumnya. “Gimana sih ciri-ciri padi yang sudah bisa dipanen?” tanyaku. “Ya, warnanya kuning..” kata Wandi. “Terus merunduk!” Sambung Murni. “Kalau sudah panen, rumah kami penuh dengan beras!” seru Wandi. Kelihatannya waktu panen itu waktu yang sangat membahagiakan buat mereka. Mereka memberitahu aku, bagaimana mereka bisa mendapat panen berkarung-karung, sampai bagaimana mereka bisa makan nasi dari beras hasil keringat mereka sendiri. “Senang kali kami kalau makan nasi yang berasnya hasil sawah kami sendiri!” kata Kris. “Merasa bangga gitu ya?” tanyaku tersenyum. “Iya, puas gitu lah. Enak.” Jawab Kris. Aku mangangguk-angguk ikut senang. “Pernah kalian gagal panen?” tanyaku penasaran. “Nggak, aku nggak pernah.” Jawab Kris. “Aku pernah.” Kata Wandi. “Oh, terus gimana dong?” tanyaku lagi. “Ya, kami jadi beli beras.” Jawab Wandi.

Lalu kami berbicara tentang nggak enaknya bertani. “Banyak pacet dan lintah!” keluh Wandi diiringi anggukkan dari Kris dan Murni. “Pernah aku digigit lintah sebesar ini!” lanjut Wandi sambil membentuk jarinya seukuran lintah besar. “Kalau bapakku membunuh pacet dengan didekatkan ke api.” Ujar ku kepada mereka. “Bisa pakai api dari rokok!” kata Kris. “Kalau aku, kucabut dari kakiku pacet itu, lalu kubuang saja bah!” seru Wandi. Kamipun tertawa. Setelah itu kami membicarakan tentang saat-saat membajak sawah. “Kalian membajaknya pakai traktor atau kerbau?” tanyaku pada mereka. “Kerbau.” Jawab Murni. “Iya, kerbau.” Jawab Kris dan Wandi juga. “Memang mana yang lebih enak?” tanyaku lagi. “Yah, lebih enak pakai kerbau, soalnya lebih dalam.” Jawab Wandi. “Kalau pakai kerbau enak, kita bisa naik ke atas pundaknya!” seru Murni. “Kalau pakai traktor nggak bersih.” Kata Kris, walaupun aku nggak terlalu mengerti apa yang dimaksud “bersih” oleh Kris. “Jadi Kerbau-nya kalian kasih nama nggak?” tanyaku. “Iya, nama kerbauku yang betina Tonton.” Kata Kris. “Nama kerbauku Bleki!” seru Murni. “Murni, itukan nama untuk anjing.” Ujarku sambil tertawa. “Yah, memang itu namanya.” Kata Murni memprotes.

“Kalian suatu saat nanti mau masuk perguruan tinggi nggak?” tanyaku tiba-tiba disela-sela pembicaraan kami tentang bertani. “Mau!” seru mereka bertiga, lagi-lagi dengan bersemangat. Aku tersenyum mendengarnya. “Yah kalau ada uangnya lah kami mau.” Lanjut Wandi. “Ya, berarti cari uang dulu lah kalian.” Begitu ujarku. “Iya, pokoknya aku mau kuliah lah!” kata Wandi. “Memang orangtua kalian mendukung nggak sih, kalau kalian mau sekolah tinggi-tinggi?” tanyaku dengan nada rendah, aku agak takut kalau pertanyaanku agak menyinggung. “Mendukung banget!” ujar mereka bertiga. “Kalau malam sebelum tidur kan, orangtuaku selalu bilang, ‘baik-baiklah kalian belajar ya’, begitu” kata Wandi. “Kalau mama-ku kan selalu bilang bahwa dia mau aku untuk belajar supaya bisa berhasil dan tidak hanya jadi petani seperti dia.” Kata Kris. Aku pun lagi-lagi tidak bisa menahan senyum. Mudah-mudahan saja cita-cita mereka untuk bisa masuk perguruan tinggi itu bisa tercapai.
Menyenangkan sekali bisa mengobrol dengan mereka. Mereka begitu jujur dan menerima semua pertanyaan dariku. Aku jadi tidak segan untuk bertanya. Kalau aku lihat, mereka malah senang aku beri banyak pertanyaan. Mungkin itu menimbulkan perasaan bangga pada mereka karena bisa membeberkan hal-hal yang mereka tau kepadaku. Pembicaraan kami tidak berhenti sampai bel pulang berdering. Kapan ya bisa mengobrol panjang seperti ini lagi?

Advertisements