Ancol. Mendengar itu mungkin yang langsung muncul di benak kita adalah Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta Utara. Tapi sebenarnya ada “Ancol” lain selain yang satu itu.

“Kita jalan-jalan yuk!” ajak Selly, seorang temanku. Saat itu aku, Selly, Nova, dan Murni sedang bermaksud untuk pulang. Kebetulan hari itu kami pulang cepat karena memang sudah tidak ada pelajaran. Mendengar ajakan itu, akupun merasa tertarik. “Iya nih, malas dirumah aja!” kata Murni. “Kita ke Ancol aja!” seru Nova tiba-tiba. Selly dan Murni mengangguk-angguk setuju. Tinggalah aku, merasa bingung sendiri. Ancol?

“Ancol tuh dimana ya?” ujarku pelan.

“Makanya ikut yuk!” jawab Selly.

Akhirnya aku mengikuti mereka. Aku awalnya tidak mau ikut, karena bisa-bisa aku ketinggalan becak dan nggak bisa pulang. Tapi rasa penasaranku akan “Ancol” itu membuat aku mengikuti ajakan Selly. Mereka berjalan ke arah kiri sekolah. Kami pun terus berjalan.

“Ini nih Ancol!” kata Nova.

Wow! Ternyata Ancol itu sebuah tempat di tepi Danau Toba. Tempatnya rindang dan bagus sekali. Di depannya, tepat berada rumah bupati yang besar dan megah. Pemandangannya bukan main indahnya. Bisa dibilang, keindahan Danau Toba yang terbaik yang pernah aku lihat adalah di Ancol ini. Tidak seperti biasanya, tidak tampak eceng gondok di sana.

* * *

Hari Selasa nanti kami mau pembagian rapot. Seperti murid-murid kebanyakan, aku merasa tegang tidak karuan. Yah, aku cuma berharap nilaiku bagus-bagus. Walaupun ujianku ada yang remedial. IPA, IPS, dan matematika. Yah, kan nilai rapot itu dirata-rata. Dan ulangan harianku nilainya juga bagus-bagus, sehingga aku rasa nilai rapotku tidak akan terlalu buruk.

Akhir-akhir ini teman-temanku sering berkata begini, “Hanna, kau pasti juara satu lah! Pasti!”. Kalo dibilang begitu, aku hanya bilang, “Ah, jelek-nya nilaiku.”. Lalu temanku itu pasti mengelak lagi, “Tapi kan kau pintar..bla bla bla”. Senang juga diberi semangat seperti itu sama mereka. Aku hanya berharap mudah-mudahan yang mereka bilang itu menjadi kenyataan. Tapi aku melihat seorang teman sekelasku yang lumayan pintar juga. Tak lain dan tak bukan adalah si Kristianto, salah seorang guru bahasa batak-ku. Dia luar biasa sekali dalam matematika dan ipa. Hanya dia yang tidak remedial matematika di kelas kami. Kami-pun saling mendukung satu sama lain. Aku, Murni, Kris, dan Wandi memang bersahabat, sehingga kami selalu saling mendukung dan membantu. Aku rasa dia-lah yang akan menduduki juara pertama nanti. Kita lihat saja ya.

Selain kata-kata yang tadi, akupun sering mendengar ucapan teman-temanku kepadaku seperti ini, “Hanna, kalo kamu masuk kelas-a jangan sombong sama kami ya!”. Memang, kalau kita mendapat juara dengan nilai yang cukup, kemungkinan besar kita akan dipindahkan kelasnya ke kelas a. Kelas a bisa dibilang kelas unggulan. Biasanya aku langsung menjawab kepada mereka, “Tentu saja tidak lah!”. Jujur saja, teman-teman sekelasku yang saat ini memang baik-baik. Walaupun kadang usil, tapi sebenarnya baik hati. Tentu saja aku nggak akan sombong dan lupa sama mereka.

* * *

Liburan kali ini keluarga kami lagi sibuk-sibuknya menentukan akan jalan-jalan ke mana. Kakakku bilang, dia ingin jalan-jalan ke Tuk-Tuk. Memang Tuk-Tuk tempat yang lebih terkenal dibandingkan Pangururan. Tuk-Tuk lebih banyak dikunjungi oleh turis asing daripada Pangururan. Makanya kakakku ingin sekali pergi ke sana. Kalo Mama, pengennya pergi ke Siantar. Walaupun kami sudah sering ke sana, tapi Mama pengin makan-makan dan belanja di Siantar. Kalo Bapak, lebih memilih pergi ke Tuk-Tuk karena Siantar menurutnya terlalu jauh. Sedangkan aku maunya jalan-jalan ke Pasir Putih di Ambarita. Pasir Putih itu semacam pantai. Banyak teman-temanku yang pergi ke sana liburan ini, dan aku jadi penasaran ingin ke sana. Kalo kata kakakku sih, Pasir Putih itu cantik banget. Pasirnya memang benar putih. Diapun menunjukkan foto Pasir Putih kepadaku. Dan aku setuju kepadanya, memang benar cantik Pasir Putih itu.

Kira-kira pergi ke mana ya liburan ini? Tuk-Tuk atau Pasir Putih? Atau Siantar?

Advertisements