Sebentar lagi kan Hari Guru. Tepatnya tanggal 25 November. Di SMP N 1 Pangururan ini, Hari Guru adalah sebuah perayaan yang nggak boleh dilewatkan dan wajib di rayakan. Seinget aku sih, dulu waktu di Jakarta Hari Guru dilewatkan dengan memberi kado sama wali kelas atau guru yang disukai. Yah, pokoknya gak spesial-spesial amat lah. Tapi kalo di sini, Hari Guru tuh ada perayaannya sendiri. Makanya, sekolah lagi heboh-hebohnya mintain dana dari murid-murid.

“Pokoknya setiap murid diwajibkan menyumbang 10.000 rupiah untuk Hari Guru.” begitu kata bendahara OSIS yang didampingi oleh ketua OSIS kepada kami. Kebetulan Ibu Guru kami lagi keluar sebentar, terus mereka berdua masuk. Mendengar jumlah uang yang harus disumbang, teman-temanku langusung ber-“yaaah..” bersama-sama layaknya paduan suara. “Sebenarnya jumlah itu masih kurang, harusnya kalian itu diminta 20.000 per orang..” lanjut bendahara OSIS. Anak anak bukan ber-yah lagi sekarang, tapi ber-“haaaaah!!?”. Bendahara OSIS manggut-manggut membenarkan pernyataannya tadi. Jangan heran, 5000 rupiah aja udah jumlah yang sangat besar untuk anak-anak pangururan. Jadi, disuruh menyumbang 10.000 untuk Hari Guru rasanya akan berat banget mereka lakukan.

“Yaah, nggak papa lah dek. Kita kan harus memberi yang terbaik buat guru kita kan dek? Masa nggak mau memberi kado untuk guru yang mengajar kita dek?” bujuk ketua OSIS kepada kami. Yah bang (ketua OSIS-nya cowok), memberi yang terbaik sih memberi yang terbaik, tapi kalo nggak ada duit gimana? Dang adong hepeng bang (nggak ada uang bang).. Mungkin itulah yang dipikirkan teman-temanku. Gimana ya teman-temanku mau minta uang sama orang tua mereka?

Aku bisa sedikit membayangkan kalo seorang temanku meminta uang kepada orangtuanya sebesar 10.000 rupiah dengan alasan “sumbangan untuk hari guru”. Tuh orangtua pasti nolak mentah-mentah. Seperti yang udah aku bilang, 10.000 adalah jumlah yang sangat besar buat mereka. Buat bayar uang kas kelas 2000 per bulan aja susahnya minta ampun.

“Kalo gitu dek, nabung aja 1000 per hari kan bisa dek? Ayo dong dek, buat guru kita.” bujuk bendahara OSIS. Akhirnya dua orang itu keluar dari kelas kami. “Buset, banyak kian” ujar Dinda kepadaku. Aku cuma bisa mengangguk.

Rencanaku untuk Hari Guru nanti, aku mau ngasih sesuatu buat dua guru kesayanganku. Mereka adalah Ibu K.Sihombing dan Pak SG Situmorang (tentang Ibu KS udah pernah aku tulis di posting sebelumnya). Ibu KS emang disukai semua murid. Tapi kalo Pak SG, keliatannya aku doang yang suka. Karena Pak SG SAMA SEKALI bukan guru yang menyenangkan. Dia ngajarnya nggak jelas dan putus-putus. Udah gitu bab yang di pelajari lompat-lompat. Dari Bab 3, bisa langsung lompat ke Bab 6. Aku sendiri juga heran kenapa bisa suka sama guru ini. Mungkin karena aku lumayan suka IPA (kecuali fisika sama kimia, jadi aku cuma suka biologi) jadi gurunya juga aku sukai. Nanti, aku mau ngasih Ibu KS sebuah kartu ucapan dalam bahasa inggris, karna dia guru bahasa inggris. Kalo buat pak SG, aku belum tau. Mungkin kartu juga.

Yah, begitulah.

Advertisements