Tadi kami ulangan PKN. PKN tuh menurut aku, adalah pelajaran paling bikin boring dan sangat banyak hafalannya. Aku bener-bener cuma belajar sedikit, jadi aku cuma memasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ibu TG, guru PKN kami, masuk dengan langkah yang tegap. Membawa tas coklatnya, dan setumpuk kertas di tangannya. Nggak salah lagi, itu kertas soal ulangan.

“Masukan semua buku ke dalam tas, taruh tasnya di samping meja kalian, buang semua kertas yang ada di kolong meja kalian, sediakan satu kertas dan pulpen di atas meja” begitu perintah Ibu TG. Sungguh ketat sekali.

Waktu soal ujian dibagikan, aku membaca soalnya satu persatu. Sedikit susah, kalo aku lihat2. Tapi essay-nya hampir semua bisa aku kerjakan. Emm, aku mulai menjawab soal essay, “apa artinya pancasila adalah ideologi negara?” Apa ya? Aku bingung banget. Akhirnya aku melangkah ke soal nomor dua, “sebutkan isi sumpah pemuda!” Nah yang ini aku bisa nih. Udah hafal sejak SD. Tiba-tiba HP-nya Ibu TG bunyi.

“Aku lagi di sekolah ini. Apa nggak bisa tunggu sampe aku pulang?” begitu kata-kata Ibu TG di telepon. Aku mencium bau-bau keberuntungan di sekitarku (lebay ah). Mungkinkah yang aku pikirkan terjadi? Apa dewi fortuna sedang berpihak pada kami, murid-murid kelas 8-F?

Ya ampun! Ternyata benar! Ibu TG ada keperluan penting dan dia membawa tas coklatnya bersamanya saat keluar dari pintu kelas. Semua temen-temenku langsung ber-yes ria. Langsung deh, aku pusing. Dari segala jurusan, semua memanggil namaku. “Hanna, hanna” dari kiri “Hanna, hanna” dari kanan. Tiba-tiba, ada yang melangkah masuk ke dalam kelas. Seorang wanita. Secepat inikah dewi fortuna pergi?

Sampai kami sadari. Dia adalah sekertaris TU yang disuruh oleh Ibu TG untuk mengawasi kami ulangan. Seketika juga, aku, Siti, Dinda, Nova, dan Murni tertawa terkikik. Dia bukan sekertaris TU biasa. Dia si Mentel.

Siapa si Mentel itu? Sebelum dijelasin, Mentel itu bukan nama aslinya. Mentel dalam bahasa batak bisa berarti ‘orang yang kebanyakan gaya’. Dan yah, sekertaris TU itu bener bener mentel banget. Suka megang-megang rambut. Jalannya sok di gimana-gimana in. Mentel lah! Nah, udah gitu aku sama temen-temen nggak tau nama dia siapa. So, aku usulin sama Murni, “gimana kalo kita manggil dia si mentel?” Sejak itu nama “si Mentel” jadi terkenal dan anak-anak di kelasku langsung memanggil mereka Si Mentel.

Ternyata si mentel, eh, dewi fortuna masih berpihak pada kami. Si Mentel nggak ketat-ketat banget ngawasinnya. Akhirnya, murid-murid dengan enaknya contek-contekkan. Si Mentel jalan mondar-mandir. Aku, Siti, Murni, Dinda, sama Nova masih terkikik di pojok kelas. Siti yang paling nggak bisa mengendalikan diri. Dia mendekap mulutnya, berusaha nggak mengeluarkan suara. Si Mentel menyadari bahwa kami tertawa-tawa di pojok kelas. Dia pun mendatangi kami. “Aha na di parengkeli ho?” kata Si Mentel (artinya, apa yang kamu tertawakan). Si Siti bilang, “Dang adong, bu” (nggak ada bu). Si Mentel kembali nyerocos dalam bahasa batak. Aku nggak ngerti apa artinya. Tapi kata murni, Si Mentel bilang kalo dia akan membuat kami ketawa selam sejam kalo kami nggak berhenti ketawa sekarang. Tapi kami nggak berhenti. Si Siti malah makin parah. Betapa kagetnya aku, Si Mentel mendatangi aku.

“Nunga sae ho?” (apa kamu sudah selesai) kata si Mentel. Sebenernya aku ngerti apa kata Si Mentel. Tapi Si Murni langsung nyerobot, “Dang di iatusi imana hata batak bu”(dia nggak ngerti bahasa batak bu)kata si Murni. Si Mentel manggut-manggut, “Oh bilang dong” begitu katanya. Desima langsung ngomong, “Anak Jakarta-nya dia Bu”. Si Mentel manggut2 lagi.

“Ise do goarna ibu on?” (siapa sih nama ibu ini?) kata si Murni. Si Mentel masih di dekat kami. Tapi dia sedang melihat ke arah lain, jadi nggak mendengar kata-kata si Murni. Aku jawab, “Dang hu boto” (nggak tau). Ternyata si Mentel denger kalo aku ngomong bahasa batak.

“Itu dia berbahasa batak” kata Si Mentel sama Murni. Murni langsung senyam-senyum sambil melihat ke arah aku. Yang terjadi sungguh tidak terduga. Si Mentel memukul punggung si Murni dengan penggaris agak keras. Siti kembali ketawa. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Aku tertawa pasrah melihat si Murni. Emm, padahal memang benar aku nggak tau berbahasa batak (dengan lancar).

Ulangan pun selesai. Kami mengumpulkan kertas ulangan kami kepada si Mentel. Si Mentel pun keluar kelas sambil membawa tumpukan kertas ujian.

Andai aku tau namamu Mentel. Aku berjanji akan memanggilmu dengan namamu yang sebenarnya.

Advertisements